WAMENA,tiiruu.com – Sebanyak 14 grup band reggae asal Provinsi Papua Pegunungan resmi dilepas untuk mengikuti Papua Reggae Festival (PRF) ke-XI di Nabire, Provinsi Papua Tengah, yang dijadwalkan berlangsung pada 16–17 Oktober 2026.
Pelepasan dilakukan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparparekraf) Provinsi Papua Pegunungan, Hulu Bahabol, yang mewakili Gubernur Papua Pegunungan yang di tandai dengan penabuhan drum di Bandara Wamena, Rabu (14/10/2026).
Keberangkatan belasan grup band tersebut menjadi momentum bagi musisi Papua Pegunungan untuk menunjukkan kemampuan bermusik sekaligus memperkenalkan karya dan kekayaan budaya daerah melalui panggung musik reggae.
Hulu Bahabol mengatakan, pelepasan ini merupakan bentuk dukungan pemerintah provinsi terhadap musisi lokal agar mereka mendapat kesempatan tampil, mengembangkan kreativitas, dan membawa nama Papua Pegunungan di ajang musik tingkat regional.
Ia berharap 14 grup band tersebut dapat tampil maksimal serta memanfaatkan festival sebagai ruang untuk membangun pengalaman dan memperluas jaringan dengan para musisi dari daerah lain.
Hulu juga berpesan agar para musisi tidak hanya membawakan lagu reggae, tetapi turut memperkenalkan lagu-lagu daerah Papua Pegunungan.
Menurutnya, lagu daerah merupakan identitas masyarakat yang menyimpan cerita tentang budaya dan kehidupan orang Papua, sehingga penting untuk terus diperkenalkan melalui karya seni.
“Lagu daerah merupakan identitas kita. Melalui lagu, kita bisa menceritakan budaya dan kehidupan masyarakat kita,” pesannya.
Untuk mendukung keberangkatan para musisi, Disparparekraf Papua Pegunungan telah menganggarkan Rp1 miliar bagi kebutuhan transportasi dan akomodasi. Namun, menurut Hulu, dukungan tersebut masih diupayakan karena proses APBD belum tuntas.
Meski demikian, pemerintah daerah terus berupaya mencari dukungan agar para musisi dapat mengikuti festival dan tampil membawa nama Provinsi Papua Pegunungan.
Keikutsertaan 14 grup band reggae ini diharapkan menjadi langkah positif bagi perkembangan musik lokal sekaligus memperkuat keberadaan seniman Papua Pegunungan dalam industri ekonomi kreatif, (*).











































