Beranda PAPUA PEGUNUNGAN Kekeringan di Kuyawage Ancam Ketahanan Pangan, Warga Minta Pemerintah Segera Bentuk Tim...

Kekeringan di Kuyawage Ancam Ketahanan Pangan, Warga Minta Pemerintah Segera Bentuk Tim Tanggap Darurat

19
0

Lanny Jaya, tiiruu.com – Musim kemarau yang melanda Distrik Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan, mengakibatkan lahan pertanian dan perkebunan warga mengering. Kondisi tersebut menyebabkan banyak tanaman gagal panen hingga hangus, sehingga mengancam ketahanan pangan masyarakat, termasuk pengungsi asal Kabupaten Nduga yang menetap di wilayah itu sejak 2018.

 

Sejumlah warga menyebutkan kekeringan mulai berdampak pada kehidupan sehari-hari. Selain menurunkan hasil pertanian, musim kemarau juga menyebabkan sumber air menyusut, tanah mengering, dan aktivitas masyarakat terganggu.

 

Salah seorang pengungsi asal Nduga yang kini menetap di Kuyawage, Nuwinus Gwijangge, mengatakan musim kemarau di wilayah itu terjadi hampir setiap tahun. Menurutnya, kemarau biasanya mulai berlangsung pada Juni dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

 

“Musim kemarau ini diperkirakan berlangsung hingga Desember 2026. Masyarakat kesulitan mendapatkan kebutuhan sehari-hari karena sumber air mengering dan tanah menjadi kering,” kata Nuwinus saat ditemui di Wamena, Jumat (27/6/2026).

 

Ia menjelaskan, kekeringan menyebabkan lahan pertanian berubah menjadi kering dan berdebu, rumput mengering, serta tanaman pangan perlahan-lahan mati akibat tidak mendapatkan pasokan air.

 

“Matahari bersinar dari pagi hingga sore tanpa ada tanda-tanda hujan. Aktivitas masyarakat pun banyak yang terhenti sementara,” ujarnya.

 

Menurut Nuwinus, persediaan pangan yang dimiliki masyarakat diperkirakan hanya mampu mencukupi kebutuhan sekitar satu minggu ke depan. Jika hujan belum turun dan bantuan belum tersedia, sebagian warga berencana mengungsi ke kampung-kampung lain untuk sementara waktu.

 

“Dalam satu minggu ini kami masih bisa bertahan. Namun setelah itu masyarakat kemungkinan akan mengungsi karena tidak ada makanan dan tanaman semuanya layu serta kering,” katanya.

 

Ia mengatakan wilayah yang terdampak meliputi sejumlah jemaat gereja, antara lain Gereja Bonbon, Gereja Area, Gereja Yugume, Gereja Filadelfia, dan Gereja Pribubu. Kawasan tersebut dihuni oleh masyarakat setempat sekaligus menjadi lokasi permukiman pengungsi asal Nduga sejak 2018.

 

Nuwinus berharap pemerintah segera mengambil langkah darurat untuk mencegah memburuknya kondisi masyarakat. Ia meminta Pemerintah Kabupaten Nduga, Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya, dan Pemerintah Kabupaten Puncak membentuk tim tanggap darurat serta menyalurkan bantuan bahan makanan kepada warga terdampak.

 

Sementara itu, intelektual asal Kuyawage, **Demin Tabuni**, mengatakan kekeringan di wilayah tersebut bukan merupakan peristiwa baru. Menurutnya, hampir setiap tahun Kuyawage mengalami musim kemarau panjang yang mengakibatkan kebun masyarakat rusak, ternak mati, bahkan dalam beberapa kejadian menyebabkan korban jiwa.

 

Demin menjelaskan bencana serupa terakhir terjadi pada 2022. Adapun musim kemarau tahun ini mulai dirasakan sejak 19 Juni 2026 dan terus memburuk hingga 27 Juni 2026.

 

Ia berharap Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya, Pemerintah Kabupaten Nduga, dan Pemerintah Kabupaten Puncak segera membentuk tim tanggap darurat, melakukan pendataan terhadap kerusakan yang terjadi, serta menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat yang terdampak.

 

Menurut Demin, langkah cepat dari pemerintah diperlukan agar dampak kekeringan tidak berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang lebih luas, mengingat sebagian besar masyarakat di Kuyawage bergantung pada hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

 

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya maupun Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan terkait langkah penanganan kekeringan di Distrik Kuyawage.