Beranda PENDIDIKAN/KESEHATAN Peringati Hari Perempuan Sedunia, Kewita Gelar Seminar tentang Pergaulan Bebas dan HIV/AIDS...

Peringati Hari Perempuan Sedunia, Kewita Gelar Seminar tentang Pergaulan Bebas dan HIV/AIDS di Kalangan Remaja

231
0

Waghete, tiiruu.com – Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia, Kewita Learning Initiative menggelar seminar kesehatan bertema “Bahaya Pergaulan Bebas dan HIV/AIDS di Kalangan Remaja” yang berlangsung di Aula Soskat St. Yohanes Pemandi, Waghete, Senin (9/3/2026).

 

Kegiatan ini melibatkan pelajar SMP dan SMA dari wilayah ibu kota Waghete serta dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemuda, perwakilan Dinas Kesehatan, pihak gereja, hingga para orang tua.

 

Seminar menghadirkan dua narasumber yang membahas persoalan kesehatan remaja dari perspektif medis dan sosial. dr. Banki Sirampung dalam pemaparannya menjelaskan mekanisme penularan HIV/AIDS serta pentingnya upaya pencegahan sejak usia remaja. Ia menekankan bahwa pemahaman yang benar mengenai HIV/AIDS sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.

 

“Remaja perlu mengetahui bagaimana HIV dapat menular dan bagaimana cara mencegahnya. Pengetahuan ini penting agar mereka mampu menjaga diri serta tidak terjebak dalam perilaku berisiko,” ujar dr. Banki dalam sesi seminar.

 

Sementara itu, Naomi Edowai, SKM., M.Kes menguraikan berbagai dampak negatif dari pergaulan bebas yang dapat memengaruhi kesehatan, pendidikan, hingga masa depan remaja. Ia menyebut bahwa kurangnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi sering menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya perilaku berisiko di kalangan remaja.

 

Menurut Naomi, edukasi kesehatan reproduksi perlu diberikan secara terbuka dan bertanggung jawab agar generasi muda memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan mereka.

 

Di kesempatan yang sama, pegiat gerakan perempuan sekaligus perwakilan penyelenggara, Marselina Mote, menegaskan bahwa peran perempuan Papua dalam memperjuangkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat telah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum istilah feminisme dikenal luas.

 

“Kerja sederhana seperti berkebun untuk keluarga atau bersuara melindungi generasi adalah bagian dari perjuangan perempuan yang menjadi fondasi masyarakat,” kata Marselina dalam sambutannya.

 

Ia juga menjelaskan bahwa seminar tersebut merupakan bagian dari upaya memperjuangkan hak perempuan, khususnya dalam memperoleh pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Selain seminar, panitia juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi peserta.

 

“Kegiatan ini murni demi kemanusiaan, bukan untuk kepentingan politik atau agama tertentu. Tujuannya adalah menciptakan kehidupan yang lebih baik dan adil bagi semua gender, ras, dan etnis,” tegasnya.

 

Meski jumlah peserta tidak terlalu banyak, kegiatan berlangsung dengan penuh antusias. Para peserta aktif mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab bersama narasumber.

 

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap para remaja di Waghete dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai bahaya pergaulan bebas serta pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, sehingga mampu membangun masa depan yang lebih sehat dan bertanggung jawab.