JAYAPURA,tiiruu.com – Persoalan kolonialisme tidak hanya menjadi catatan sejarah masa lalu, tetapi masih menjadi bagian dari realitas sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang dihadapi masyarakat Papua hingga saat ini. Hal tersebut menjadi pokok pembahasan dalam seminar bertema “Jejak Masa Lalu, Realitas Masa Kini: Membedah Dampak Kolonialisme di Era Modern” yang digelar oleh Peace Literacy Institute Indonesia (PLII) di Papua, Jumat (11/9/2026).
Seminar yang berlangsung di Gedung Aula Asrama Liborang, Padang Bulan, Kota Jayapura, tersebut menghadirkan Victor Yeimo, Juru Bicara KNPB Internasional, sebagai narasumber dengan moderator Maiton Gurik, pegiat literasi Papua. Kegiatan ini diikuti sekitar 155 peserta dan berlangsung mulai pukul 15.30 WIT hingga selesai.
Dalam pemaparannya, Victor Yeimo menyoroti bahwa kolonialisme tidak selalu hadir dalam bentuk penjajahan fisik, tetapi dapat berubah menjadi bentuk dominasi yang lebih modern melalui bidang ekonomi, politik, budaya, hingga penguasaan pengetahuan.
“Kolonialisme di Papua tidak benar-benar berakhir, tetapi berganti wajah. Sistem yang pernah dibangun pada masa kolonial masih meninggalkan pengaruh dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat hari ini,” ujar Victor dalam seminar tersebut.
Ia menjelaskan, sejarah Papua memiliki perjalanan panjang yang tidak dapat dipisahkan dari persoalan tanah, sumber daya alam, identitas budaya, serta posisi masyarakat adat dalam menentukan masa depan wilayahnya.
Menurutnya, kekayaan alam Papua yang besar belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat asli Papua.
“Tanah Papua kaya raya, tetapi orang Papua tetap miskin di tanah sendiri. Itu bukan sekadar kebetulan, tetapi ada sistem yang telah terbentuk dan terus berjalan hingga hari ini,” kata Victor.
Selain persoalan ekonomi dan sumber daya alam, Victor juga menyinggung dampak kolonialisme terhadap identitas budaya dan cara pandang masyarakat terhadap dirinya sendiri.
Ia menilai, ketika masyarakat mulai kehilangan kebanggaan terhadap bahasa ibu, budaya, dan nilai-nilai leluhur, maka bentuk penjajahan telah masuk ke wilayah yang lebih dalam, yakni pikiran dan kesadaran manusia.
“Ketika kita malu menggunakan bahasa ibu, malu mengenakan pakaian adat, dan menganggap budaya asing lebih tinggi daripada budaya sendiri, di situlah kolonialisme telah menang tanpa mengangkat senjata,” ungkapnya.
Victor juga menyoroti pentingnya masyarakat Papua memahami sejarah dari perspektif sendiri. Menurutnya, sejarah yang tidak ditulis dan dipahami oleh masyarakat sendiri dapat menyebabkan hilangnya identitas serta melemahnya kesadaran generasi muda terhadap akar budaya dan perjuangan mereka.
“Selama pengetahuan kita masih dikendalikan oleh orang lain, kemerdekaan yang kita miliki hanya menjadi kemerdekaan di atas kertas,” tegasnya.
Sementara itu, moderator seminar Maiton Gurik mengaitkan pembahasan tersebut dengan pentingnya literasi sebagai alat membangun kesadaran kritis masyarakat.
Menurut Maiton, literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami sejarah, realitas sosial, serta membangun cara berpikir yang mandiri.
“Literasi adalah kunci untuk melepaskan diri dari penjajahan mental. Masyarakat harus mampu membaca sejarah sendiri, menulis kebenaran sendiri, dan membangun jati dirinya sendiri,” ujar Maiton.
Ia menambahkan, perdamaian sejati tidak dapat dipisahkan dari keadilan, penghormatan terhadap identitas, serta keberanian melihat fakta sejarah secara terbuka.
Melalui kegiatan tersebut, PLII di Papua berharap seminar ini dapat menjadi ruang dialog bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memperkuat pemahaman sejarah, membangun kesadaran kritis, serta mendorong terciptanya perdamaian yang berlandaskan keadilan.
Seminar ditutup dengan pesan bahwa memahami masa lalu menjadi bagian penting untuk membaca kondisi hari ini dan merancang masa depan Papua yang lebih baik. (*).











































