Beranda ADVERTORIAL MBG Serap Hasil Kebun Petani Lokal, Rida Kogoya: Jeruk Hingga Lele Dari...

MBG Serap Hasil Kebun Petani Lokal, Rida Kogoya: Jeruk Hingga Lele Dari Lanny Jaya Masuk Menu Anak Sekolah

42
0

WAMENA,tiiruu.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lanny Jaya tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah, tetapi juga menjadi ruang bagi petani dan pelaku UMKM lokal untuk masuk dalam rantai pasok bahan pangan.

 

Hal tersebut disampaikan Pengelola MBG Kabupaten Lanny Jaya sekaligus Ketua Yayasan Garuda Bagimu Negeri, Rida Kogoya, usai memenuhi panggilan DPR Provinsi Papua Pegunungan bersama Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Papua Pegunungan dan sejumlah yayasan pengelola MBG di Kantor DPR Papua Pegunungan, Wamena, Selasa (22/9/2026).

 

Rida mengatakan, pihaknya mendorong enam dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Lanny Jaya agar memprioritaskan bahan pangan yang tersedia di daerah setempat.

 

Menurutnya, bahan seperti sayuran, bumbu, daging, buah-buahan hingga ikan sebisa mungkin dibeli langsung dari petani dan pelaku UMKM lokal.

 

“Kalau barang-barang ini ada di wilayah Lanny Jaya, memang harus diprioritaskan untuk dibeli,” ujar Rida.

 

Ia menjelaskan, pihak pengelola juga melakukan pembelian langsung dari sejumlah pasar dan sentra produksi di Lanny Jaya. Bahan pangan yang tersedia di daerah akan diangkut menggunakan kendaraan menuju dapur MBG untuk selanjutnya diolah sesuai menu yang telah ditetapkan.

 

Salah satu potensi lokal yang didorong masuk dalam rantai pasok MBG adalah ikan lele. Rida menyebut ikan lele yang dibudidayakan UMKM setempat dipasok dalam kondisi hidup dan kemudian diproses di dapur.

 

“Untuk memberikan makanan kepada anak-anak supaya protein yang tinggi itu ada pada ikan. Selain ikan, kami juga menggunakan daging sapi, ayam dan telur,” katanya.

 

Tak hanya protein, potensi buah lokal juga mulai dimanfaatkan. Rida menyebut Lanny Jaya memiliki kebun jeruk di Distrik Maki, khususnya di wilayah Kulugulu atau Kondena, yang selama ini belum sepenuhnya terserap pasar.

 

Dengan adanya program MBG, pihaknya mendorong agar hasil kebun tersebut langsung dibeli dari petani.

 

“Buah jeruk tidak harus kita andalkan dari Wamena atau dari luar. Lanny Jaya juga punya keunggulan jeruk yang luar biasa. Begitu juga nanas dan pisang,” katanya.

 

Menurut Rida, pola tersebut diharapkan dapat membuat petani memiliki pasar yang lebih pasti. Sayuran, buah dan bumbu yang tersedia di daerah tidak lagi hanya dijual secara terbatas di pasar, tetapi dapat diserap untuk kebutuhan dapur MBG.

 

Ia menegaskan, bahan pangan dari luar daerah hanya akan digunakan apabila kebutuhan tertentu tidak tersedia atau stoknya tidak mencukupi di Lanny Jaya.

 

Sementara itu, pelaksanaan MBG di Lanny Jaya hingga kini disebut mendapat respons positif dari masyarakat, khususnya para siswa.

 

Rida mengatakan, program tersebut saat ini telah berjalan di enam dapur dan melayani sekitar 11.000 anak.

 

“Puji Tuhan sampai detik ini MBG di Lanny Jaya responsnya baik. Anak-anak juga makan dan menerima dengan baik,” ujarnya.

 

Menurutnya, antusiasme siswa terlihat ketika pelayanan MBG tidak berjalan. Bahkan, sebagian siswa mempertanyakan kepada guru karena tidak mendapatkan makanan dari program tersebut.

 

Kondisi itu, kata Rida, menunjukkan bahwa MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi mulai dirasakan langsung manfaatnya oleh anak-anak sekolah dan masyarakat di Lanny Jaya. (*).