Beranda OPINI/ARTIKEL Dua Dekade Melintasi Jarak: Iman, Mimpi, dan Proses, Ini Kisah Jefry Yikwa

Dua Dekade Melintasi Jarak: Iman, Mimpi, dan Proses, Ini Kisah Jefry Yikwa

757
0

Dua puluh tahun lalu, langkah itu diambil dengan hati yang penuh tanya. Meninggalkan rumah, keluarga, dan ritme hidup yang membesarkan dirinya bukan keputusan mudah.

Ada rindu yang ditahan, ada takut yang disimpan rapat, dan ada mimpi-mimpi yang saat itu bahkan belum berani diucapkan keras-keras. Namun dari situlah perjalanan panjang ini bermula sebuah kisah tentang anugerah, proses menjadi, dan keberanian untuk melangkah jauh demi masa depan.

Hidup di tanah orang berarti hidup dengan perubahan. Setiap hari adalah pelajaran, belajar menyesuaikan diri, belajar menerima perbedaan, dan belajar kuat dalam sunyi. Kerinduan pada rumah kerap datang tanpa aba-aba, menyelinap di sela kesibukan.

Tetapi justru di sanalah mimpi-mimpi mulai tumbuh. Mimpi yang dulu terasa mustahil perlahan berubah menjadi tujuan, dan perjalanan ini pun menjadi harapan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk generasi muda di kampung halaman agar berani bermimpi lebih besar.

Tidak semua musim berjalan ramah. Ada masa ketika sukacita datang tak terduga, mengangkat langkah lebih tinggi dari yang pernah dibayangkan. Namun ada pula masa duka yang menguras tenaga dan perasaan.

Kehilangan sahabat, keluarga, hingga orang tua meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Meski demikian, setiap kehilangan justru menjadi pengingat akan cinta yang tak bisa dipatahkan oleh jarak dan waktu.

Di titik-titik terlemah, kekuatan datang dari arah yang tak selalu terlihat. Sebuah dorongan lembut namun pasti, yang menuntun langkah ketika menyerah terasa lebih mudah. Iman menjadi kompas, penunjuk arah di tengah kebingungan, sekaligus sumber kekuatan saat tenaga sendiri habis.

Perjalanan ini bukan sekadar soal bertahan hidup. Ia menjelma menjadi petualangan panjang tentang keberanian, pembelajaran, dan penemuan jati diri. Tentang bagaimana membangun rasa “rumah” di mana pun kaki berpijak, menyambut hal-hal asing tanpa kehilangan akar, dan melangkah sambil membawa identitas sendiri.

Bagi Jefry Yikwa, kisah dua dekade ini adalah potret ketekunan yang lahir dari proses panjang. Jefry, yang memiliki latar belakang Jurusan Flight Engineering, melihat perjalanan hidup tersebut seperti dunia penerbangan penuh perhitungan, disiplin, dan kesiapan menghadapi turbulensi.

“Dalam dunia penerbangan, kita diajarkan bahwa setiap penerbangan pasti menghadapi cuaca yang berbeda. Begitu juga hidup,” ujar Jefry Yikwa.

“Perjalanan ini menunjukkan bahwa iman dan ketekunan adalah instrumen utama agar seseorang tetap berada di jalurnya, meski menghadapi tekanan, kehilangan, dan jarak yang panjang,” tambahnya.

Menurut Jefry, kisah seperti ini penting dibagikan, terutama kepada generasi muda Papua, agar mereka tidak takut bermimpi besar dan berani keluar dari zona nyaman.

“Dari keterbatasan dan kesunyian justru lahir kekuatan. Ini bukan hanya tentang sukses pribadi, tetapi tentang bagaimana satu perjalanan bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang,” katanya.

Kini, setelah dua puluh tahun berlalu, perjalanan ini belum mencapai garis akhir. Ia justru membuka lembaran baru. Masih ada mimpi yang menunggu untuk dikejar, masih ada harapan yang perlu dinyalakan, dan masih ada cahaya yang harus diteruskan kepada mereka yang datang kemudian.

Dari perantauan, sebuah pesan sederhana terus bergema: bahwa setiap langkah yang diambil dengan iman, disiplin, dan ketekunan akan selalu menemukan maknanya. Dan bahwa perjalanan menjadi—seperti sebuah penerbangan panjang akan selalu memiliki tujuan, selama kompasnya tetap terjaga, (*).