
Nabire, tiiruu.com – Papua tidak hanya berbicara tentang konflik dan tantangan pembangunan. Melalui Workshop–Rekoleksi Interkulturalitas yang digelar SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville Nabire, Papua tampil sebagai ruang hidup keberagaman yang mempertemukan berbagai budaya dalam suasana belajar bersama.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Tim Pelaksana, Pater Adi Bangkit, SJ dalam siaran pers yang diretima redaksi tiiruu.com, Jumat (22/5/2026).
Pater Adi Bangkit mengatakan, kegiatan yang berlangsung pada 11–17 Mei 2026 itu diikuti siswa kelas X dan XI dengan mengangkat tema Who I Am, How We Connect, Why We Trust. Workshop difasilitasi oleh peneliti asal Brasil, Dr. Roberto Vale, yang mendalami tema kepercayaan dalam relasi lintas budaya.
“Selama satu minggu, para siswa diajak mengenal identitas budaya masing-masing sekaligus belajar membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Dalam berbagai sesi diskusi kelompok, para siswa berbagi cerita tentang tradisi Barapen dan Bakar Batu, bahasa daerah, rumah adat, hingga pengalaman hidup sehari-hari,”katanya.
Pater Adi Bangkit, SJ mengatakan, banyak siswa mengaku baru menyadari bahwa teman-teman di sekitar mereka berasal dari latar belakang budaya yang sangat berbeda.
“Anak-anak mulai melihat bahwa meskipun berasal dari budaya yang berbeda, mereka memiliki nilai-nilai yang sama: kebersamaan, solidaritas, keluarga, dan rasa hormat,” ujarnya.
Pater Adi Bangkit,SJ mengatakan, berbeda dari metode pembelajaran biasa, workshop ini lebih banyak mengandalkan aktivitas interaktif seperti percakapan reflektif, permainan, gerak tubuh, menggambar, hingga praktik komunikasi.
“Para siswa juga diajak memahami pentingnya seni bertanya untuk membangun empati dan rasa saling percaya,”katanya.
Pater Adi Bangkit mengatakn, salah satu momen yang paling berkesan terjadi saat refleksi malam di sekitar api unggun.
“Dalam suasana sederhana dan hangat, para siswa membangun keberanian untuk keluar dari kelompok pertemanan mereka dan membuka diri terhadap peserta lain yang berbeda budaya,” katanya.
Pada hari terakhir, kata Pater Adi Bangkit peserta mengikuti walking meditation dan percakapan mendalam tentang bagaimana menciptakan komunitas yang aman dan saling menerima di tengah keberagaman.
“Tidak hanya siswa, para guru juga mengikuti sesi khusus mengenai pembangunan kepercayaan di ruang kelas multikultural. Hal ini dinilai penting karena sekolah-sekolah di Papua mempertemukan siswa dari latar belakang budaya, sosial, dan ekonomi yang beragam,”katanya.
Sementara itu bagi Dr. Roberto Vale, pengalaman di Nabire menjadi pengalaman berharga karena untuk pertama kalinya ia memfasilitasi kelompok besar yang terdiri dari puluhan hingga ratusan peserta dalam satu rangkaian kegiatan.
Di sela workshop, Roberto juga berinteraksi dengan masyarakat Nabire, mengunjungi pasar tradisional, mengajar anak-anak pengungsi dari Puncak bersama siswa asrama, serta berdialog dengan anak-anak di Waghete mengenai budaya Brasil, Kanada, dan Papua.
Sementara itu Rektor SMA YPPK Adhi Luhur Colese Le’ Cocq d’Armanville Pater J. Sudri, SJ mengatakan bahwma, melalui kegiatan ini, SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville ingin menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga tentang membangun manusia yang mampu hidup bersama dalam keberagaman.
“Papua, dalam pengalaman tersebut, hadir sebagai laboratorium sosial yang mengajarkan pentingnya perjumpaan, keberanian untuk saling percaya, dan nilai kemanusiaan yang melampaui batas budaya,” tutupnya.










































