Beranda PENDIDIKAN/KESEHATAN “Kami Berbeda-beda, Tapi Tetap Bersama”: Siswa Kolese Le Cocq Belajar Hidup Bersama...

“Kami Berbeda-beda, Tapi Tetap Bersama”: Siswa Kolese Le Cocq Belajar Hidup Bersama di Tengah Perbedaan

286
0
Siswa- Siswi SMA YPPK Adhi Luhur Saat mengikuti Workshop dengan Tema Pemahaman Lintas Budaya dengan pembicara Dr. Roberto Vale orang Brasil. Workshop ini diadakan di Kolese Le Cocq d'Armandville - SMA YPPK Adhi Luhur Nabire untuk 200-an siswa dan guru - Doc. SMA YPPK Adhi Luhur Nabire
Siswa- Siswi SMA YPPK Adhi Luhur Saat mengikuti Workshop dengan Tema Pemahaman Lintas Budaya dengan pembicara Dr. Roberto Vale orang Brasil. Workshop ini diadakan di Kolese Le Cocq d'Armandville - SMA YPPK Adhi Luhur Nabire untuk 200-an siswa dan guru - Doc. SMA YPPK Adhi Luhur Nabire

Nabire, tiiruu.com – Ratusan siswa kelas X dan XI SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville mengikuti Workshop-Rekoleksi Intercultural Understanding selama sepekan, 11–17 Mei 2026. Kegiatan yang difasilitasi peneliti asal Brasil, Dr. Roberto Vale, itu menjadi ruang bagi para siswa untuk belajar membangun kepercayaan, toleransi, dan hidup bersama di tengah keberagaman budaya.

Workshop yang berlangsung di lingkungan SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville tersebut tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga percakapan kelompok, refleksi pribadi, permainan, latihan komunikasi, hingga walking meditation.

Pada sesi refleksi penutupan, para siswa menyampaikan pengalaman dan pemahaman baru yang mereka peroleh selama kegiatan berlangsung. Sebagian besar refleksi mereka menyoroti pentingnya menerima perbedaan dan membangun kebersamaan.

“Kalau kita tuh berbeda-beda. Tapi kita tetap sama,” ujar seorang siswa dalam sesi refleksi terbuka.

Siswa lainnya mengatakan bahwa selama workshop mereka belajar hidup bersama tanpa membedakan latar belakang budaya maupun suku.

“Walaupun kami di sini semuanya berbeda-beda, tapi kami tetap bersama tanpa membeda-bedakan,” katanya.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta yang berasal dari berbagai latar belakang budaya Papua dan Nusantara saling berbagi cerita mengenai tradisi, bahasa, makanan adat, hingga nilai-nilai yang diwariskan keluarga mereka masing-masing.

Seorang peserta mengaku baru benar-benar mengenal budaya teman-temannya sendiri melalui kegiatan tersebut.

“Yang saya dapat yaitu bisa mengenal budaya dari suku-suku lain,” ujarnya.

Peserta lain mengatakan pengalaman sederhana seperti mengenal makanan adat dari budaya lain menjadi hal yang berkesan baginya.

“Sekarang saya tahu makanan adat dari budaya lain,” katanya.

Selain memperkenalkan keberagaman budaya, workshop itu juga mendorong para siswa membangun komunikasi yang lebih mendalam. Para peserta diajak belajar menyusun pertanyaan yang berkualitas agar dapat memahami orang lain secara lebih baik.

“Yang paling saya ingat adalah bagaimana membuat percakapan menjadi lebih dalam dengan pertanyaan yang berkualitas,” kata seorang siswa.

Menurut peserta lainnya, cara itu membantu mereka mengenal seseorang secara lebih mendalam.

“Dengan begitu kita bisa mengenal seseorang lebih dalam,” ujarnya.

Tema tentang kepercayaan atau trust juga menjadi bagian penting dalam workshop tersebut. Para siswa belajar bahwa hubungan yang sehat dibangun melalui kemampuan menjaga rasa percaya.

“Apa yang saya dapatkan adalah bagaimana membuat orang percaya kepada kita, dan bagaimana mempertahankan rasa percaya itu,” kata salah seorang peserta.

Beberapa siswa mengaku kegiatan itu membantu mereka keluar dari sekat-sekat sosial yang selama ini terbentuk di lingkungan sekolah. Mereka mulai belajar memahami dan menghargai orang lain tanpa melihat latar belakang budaya maupun kelompok pertemanan.

“Saya belajar memahami dan menghargai kebudayaan tanpa memandang latar belakang,” ujar seorang peserta.

Selain pengetahuan baru, banyak siswa menilai pengalaman paling penting selama workshop adalah tumbuhnya rasa kekeluargaan di antara mereka.

“Kami belajar kebersamaan di tengah perbedaan,” kata seorang siswa.

Peserta lainnya menambahkan bahwa nilai kekeluargaan menjadi hal yang paling berkesan selama proses berlangsung.

“Yang saya dapatkan adalah kekeluargaan,” ujarnya.

Pihak sekolah menilai refleksi para siswa menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan akademik, tetapi juga membangun kemampuan hidup bersama di tengah masyarakat yang beragam.

Workshop tersebut juga menjadi ruang bagi para siswa untuk belajar mendengar, berdialog, dan membangun relasi yang lebih sehat dan terbuka di tengah situasi sosial Papua yang penuh tantangan.

Dari berbagai refleksi yang muncul selama kegiatan berlangsung, tersampaikan satu pesan yang dianggap mewakili pengalaman bersama para peserta: “Kami berbeda-beda, tapi kami tetap bersama.”