Beranda ADVERTORIAL Perkuat Identitas Budaya, KO’SAPA Bentuk Jaringan Sastra di Tujuh Wilayah Adat Papua

Perkuat Identitas Budaya, KO’SAPA Bentuk Jaringan Sastra di Tujuh Wilayah Adat Papua

244
0
Mantan Koordinator KO'SAPA, Hengky Yeimo, saat menyampaikan arahan di Nabire, Rabu, (05/08/2026).

Nabire, tiiruu.com – Komunitas Sastra Papua (KO’SAPA) meneguhkan komitmennya dalam menjaga dan mengembangkan kekayaan sastra, budaya, serta literasi Papua melalui konsolidasi organisasi yang digelar pada 24 Juli 2026.

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi KO’SAPA untuk memperkuat kelembagaan, menyusun arah gerakan, sekaligus menyiapkan generasi muda Papua agar mampu menjadi penerus dalam pelestarian kebudayaan daerah.

Dalam konsolidasi itu, KO’SAPA menetapkan visi organisasi, yakni “Mengader anak-anak Papua dalam bidang kebudayaan dan literasi Papua.” Visi tersebut menjadi landasan utama dalam menjalankan berbagai program pengembangan sastra dan budaya di Tanah Papua.

Selain menetapkan visi, KO’SAPA juga melakukan restrukturisasi kepengurusan. Mecky Tebai dipercaya sebagai Koordinator Umum, sementara Musa Boma dan Hengky Yeimo menjabat sebagai Sekretaris, serta Theresia Tekege sebagai Bendahara.

Mantan Koordinator KO’SAPA, Hengky Yeimo, mengatakan pembenahan organisasi dilakukan untuk memperkuat peran KO’SAPA sebagai wadah pengembangan sastra dan kebudayaan Papua.

“KO’SAPA tidak hanya menjadi ruang berkumpul bagi para pegiat sastra, tetapi juga menjadi tempat untuk mencetak kader-kader muda Papua yang memiliki kepedulian terhadap budaya dan literasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu langkah strategis yang disepakati adalah pembentukan Koordinator Wilayah berdasarkan tujuh wilayah adat Papua. Struktur tersebut diharapkan mampu memperkuat proses pendokumentasian, pelestarian, serta pengembangan karya sastra dan budaya lokal dari berbagai daerah di Papua.

Selain itu, KO’SAPA juga membentuk delapan bidang kerja yang mencakup riset, penerbitan, literasi, pengembangan sumber daya manusia, media, hingga diplomasi kebudayaan.

Sebagai komunitas yang berdiri sejak 6 Mei 2009, KO’SAPA menyatakan gerakannya terinspirasi dari perjuangan tokoh budaya Papua, Arnold C. Ap dan kelompok Mambesak yang telah membangkitkan rasa bangga terhadap identitas budaya Papua.

Melalui berbagai program ke depan, KO’SAPA menargetkan lahirnya lebih banyak penulis, peneliti, seniman, dan pegiat literasi Papua yang mampu mendokumentasikan serta mewariskan kekayaan budaya Papua kepada generasi mendatang.

Beberapa agenda yang akan dikembangkan antara lain diskusi sastra secara rutin, pelatihan menulis, panggung budaya, penerbitan buku, Festival Literasi Papua, Kongres Pendidikan dan Sastra Papua, serta membangun jejaring dengan komunitas sastra di tingkat nasional maupun internasional.

KO’SAPA juga mengajak pemerintah, akademisi, gereja, komunitas budaya, serta seluruh masyarakat Papua untuk bersama-sama menjaga dan mengembangkan sastra Papua sebagai bagian penting dari identitas dan warisan budaya yang harus terus hidup di tengah perkembangan zaman. (*)