Beranda ADVERTORIAL Usai Letakkan Batu Pertama Gedung Gereja GKII Efata Minimo, Wagub Ones Pahabol...

Usai Letakkan Batu Pertama Gedung Gereja GKII Efata Minimo, Wagub Ones Pahabol Salurkan Bantuan Bagi Warga Terdampak Kekeringan Dari Kementerian Sosial 

9
0
Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Dr. Ones Pahabol, SE., MM., dan Pekerja Sosial Ahli Pertama Roberto Koibur dari Unit Kerja Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana (PSKB) Kemensos RI, saat melakukan peletakan batu pertama sekaligus menyerahkan bantuan dari kemensos di Distirk Maima Kabupaten Jayawijaya, Selasa, (25/08/2026).

 

WAMENA,tiiruu.com — Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Dr. Ones Pahabol, SE., MM., melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Gereja GKII Efata Minimo, Selasa (25/8/2026). Momentum tersebut menjadi tanda dimulainya pembangunan rumah ibadah yang diharapkan menjadi pusat pertumbuhan iman, pelayanan, dan kebersamaan bagi jemaat.

Dalam kesempatan itu, Ones Pahabol juga menyerahkan bantuan dana sebesar Rp200 juta untuk mendukung pembangunan Gedung Gereja Gekaii Efata Minimo. Selain itu, ia turut menyerahkan secara simbolis bantuan sosial dari Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) bagi masyarakat terdampak bencana kekeringan di Provinsi Papua Pegunungan.

Bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian pemerintah provinsi Papua Pegunungan dan Pusat melalui Kemensos RI terhadap warga yang mengalami dampak musim kering berkepanjangan. Penyaluran bantuan dilakukan melalui Pekerja Sosial Ahli Pertama Roberto Koibur dari Unit Kerja Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana (PSKB) Kemensos RI, bersama Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan yang diwakili Wakil Gubernur Ones Pahabol.

Bantuan pangan tersebut disalurkan kepada masyarakat di sejumlah wilayah terdampak, salah satunya warga di Distrik Maima, Kabupaten Jayawijaya.

Roberto Koibur mengatakan, suasana sukacita peletakan batu pertama pembangunan gereja semakin lengkap dengan hadirnya bantuan sosial dari pemerintah pusat bagi masyarakat yang sedang menghadapi dampak kekeringan.

“Bantuan dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Sosial ini, kiranya menambah sukacita bagi warga jemaat di sini. Di tengah suasana sukacita peletakan batu pertama pembangunan gereja, Kemensos juga hadir memberikan bantuan bahan makanan bagi masyarakat yang nantinya akan dibagikan kepada warga lainnya,” ujar Roberto.

Ia menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan mungkin belum sepenuhnya memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat, namun diharapkan dapat membantu mengurangi beban warga yang terdampak kekeringan.

“Bantuan ini memang tidak seberapa, tetapi kami berharap dapat mengurangi dampak dari kekeringan yang dirasakan masyarakat. Kami juga berharap bantuan ini dapat tersalurkan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat di Distrik Maima,” katanya.

Sementara itu, dalam pesan rohaninya saat peletakan batu pertama, Ones Pahabol menegaskan bahwa pembangunan gereja bukan hanya tentang membangun sebuah gedung secara fisik, tetapi harus memiliki dasar iman yang kuat.

Ia menyampaikan bahwa dasar utama pembangunan gereja dan kehidupan pelayanan orang percaya adalah Yesus Kristus.

“Jadi dasar bangunan ini adalah dibangun di atas dasar batu yang mahal, yaitu Yesus Kristus. Hari ini kami atas nama anak-anak Tuhan yang ada di pemerintahan meletakkan dasar ini sebagai tanda dimulainya pembangunan gedung gereja ini,” ungkap Ones Pahabol.

Menurutnya, pelayanan kepada Tuhan dan sesama harus dilakukan dengan ketulusan hati. Pelayanan bukan hanya sebuah tugas, tetapi merupakan tanggung jawab iman yang harus dijalankan dengan kasih.

“Pelayanan penginjilan merupakan pegangan ulu hati Tuhan. Jika seseorang memegang ulu hati Sang Pencipta, maka pandangan matanya tidak akan ke mana-mana, akan selalu tertuju kepada-Nya dengan berkat yang melimpah,” pesan Ones.

Ia berharap pembangunan Gedung Gereja Gekaii Efata Minimo dapat menjadi tempat yang menghadirkan kedamaian, memperkuat persaudaraan, serta membangun karakter jemaat dan masyarakat di Papua Pegunungan.

Peletakan batu pertama tersebut turut dihadiri tokoh gereja, pemerintah daerah, jemaat, serta masyarakat setempat. Kehadiran pemerintah melalui dukungan pembangunan gereja dan penyaluran bantuan sosial menjadi wujud kolaborasi antara pelayanan rohani dan kepedulian sosial bagi masyarakat Papua Pegunungan. (*).