
Di tengah arus perubahan zaman yang semakin cepat, Komunitas Sastra Papua (KO’SAPA) terus menyerukan pentingnya menjaga warisan budaya melalui gerakan sastra yang tumbuh dari masyarakat Papua sendiri.
Melalui tema “DO MI DOU (Segera Datang Lihat): Membiasakan, Merawat, dan Menumbuhkan Sastra Papua dari Keringat Sendiri,” KO’SAPA mengajak seluruh masyarakat Papua untuk tidak hanya menjadi penonton kebudayaan, tetapi ikut terlibat sebagai pelaku yang menjaga, menciptakan, dan mewariskan sastra Papua kepada generasi berikutnya.
Seruan tersebut disampaikan dalam rangkaian konsolidasi organisasi sekaligus peringatan Hari Lahir Mambesak ke-48 yang berlangsung di Nabire, 5 Agustus 2026. Momentum ini menjadi pengingat bahwa sastra dan seni Papua memiliki peran besar dalam menjaga identitas serta jati diri masyarakat Papua.
Papua merupakan rumah bagi ratusan suku bangsa dengan kekayaan bahasa dan budaya yang luar biasa. Dari setiap wilayah adat tersimpan warisan sastra lisan berupa mitos, legenda, dongeng, syair adat, nyanyian rakyat, hingga cerita leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Namun, kekayaan tersebut membutuhkan ruang untuk terus hidup. Karena itu, KO’SAPA menilai sastra Papua tidak cukup hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi harus terus dipraktikkan melalui kebiasaan membaca, menulis, bertutur, bernyanyi, berdiskusi, hingga mendokumentasikan cerita-cerita budaya yang ada di setiap kampung.
Ketua Panitia KO’SAPA, Mecky Tebai, mengatakan gerakan sastra Papua harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Sastra Papua tidak boleh berhenti pada nostalgia. Sastra harus hidup di tengah masyarakat melalui kebiasaan dan karya nyata yang lahir dari orang Papua sendiri,” katanya.
Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan perjuangan tokoh budaya Papua, Arnold C. Ap bersama kelompok Mambesak, yang telah membuktikan bahwa seni, musik, dan sastra mampu membangkitkan kebanggaan terhadap identitas Papua.
Bagi KO’SAPA, perjuangan Mambesak menjadi inspirasi bahwa kebudayaan bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga menjadi kekuatan untuk membangun masa depan.
Perkuat Organisasi, Siapkan Generasi Sastra Papua
Selain menggelar kegiatan budaya, KO’SAPA juga memperkuat kelembagaan organisasi melalui konsolidasi yang dilaksanakan pada 24 Juli 2026.
Dalam konsolidasi tersebut, KO’SAPA menetapkan visi organisasi yaitu “Mengader anak-anak Papua dalam bidang kebudayaan dan literasi Papua.”
Organisasi ini juga melakukan restrukturisasi kepengurusan dengan menunjuk Mecky Tebai sebagai Koordinator Umum, didampingi Musa Boma dan Hengky Yeimo sebagai Sekretaris, serta Theresia Tekege sebagai Bendahara.
Mantan Koordinator KO’SAPA, Hengky Yeimo, menjelaskan bahwa pembenahan organisasi dilakukan untuk memperkuat peran KO’SAPA dalam mendokumentasikan, mengembangkan, dan memperkenalkan sastra Papua lebih luas.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah membentuk Koordinator Wilayah berdasarkan tujuh wilayah adat Papua. Struktur tersebut diharapkan mampu menjadi pintu masuk dalam menggali berbagai karya sastra dan budaya lokal yang selama ini masih tersimpan di tengah masyarakat adat.
KO’SAPA juga membentuk delapan bidang kerja, mulai dari riset, penerbitan, literasi, pengembangan sumber daya manusia, media, hingga diplomasi kebudayaan.
Merawat Mambesak Melalui Generasi Baru
Dalam memperingati Hari Lahir Mambesak ke-48, KO’SAPA bersama Rumah Inspirasi Kebadabi dan RJB (Merdeka dari Kompleks) menggelar berbagai kegiatan budaya di Mapiduba, Nabire.
Rangkaian kegiatan dimulai pada 4 Agustus 2026 melalui lomba menggambar bagi anak-anak yang terbagi dalam kategori usia dini dan kelas 4–6 sekolah dasar.
Kegiatan tersebut menjadi upaya menanamkan kecintaan terhadap tokoh budaya Papua, simbol-simbol kebudayaan, serta nilai perjuangan Mambesak sejak usia dini.
Puncak kegiatan pada 5 Agustus 2026 menghadirkan berbagai pertunjukan budaya, mulai dari pembagian bingkisan Mambesak bagi anak-anak, diskusi bertema “Musik Akustik dan Musik AI,” penampilan vokal grup, musikalisasi puisi, pembacaan sastra, hingga panggung lagu-lagu rakyat Papua.
Kegiatan tersebut juga menjadi penghormatan kepada almarhum Rikex Nhfod, musisi muda Papua yang meninggalkan karya dalam perkembangan musik Papua. Semangat berkaryanya diteruskan melalui penampilan Anes Yeimo (King of Blvck) yang mempersembahkan Mixtape Mambesak sebagai bentuk penghargaan terhadap kreativitas anak-anak Papua.
Sastra Papua Harus Tumbuh dari Masyarakat Papua
Sebagai komunitas yang berdiri sejak 6 Mei 2009, KO’SAPA terus mendorong lahirnya penulis, peneliti, seniman, dan pegiat literasi Papua yang mampu mendokumentasikan kekayaan budaya Papua.
Ke depan, KO’SAPA akan mengembangkan berbagai program seperti diskusi sastra rutin, pelatihan menulis, panggung budaya, penerbitan buku, Festival Literasi Papua, Kongres Pendidikan dan Sastra Papua, serta membangun jaringan dengan komunitas sastra nasional maupun internasional.
Melalui gerakan “DO MI DOU,” KO’SAPA menegaskan bahwa sastra Papua tidak akan tumbuh hanya dengan kekaguman, tetapi harus dirawat melalui tindakan nyata.
Sastra harus dibiasakan, ditulis, dinyanyikan, dipentaskan, dan diwariskan. Dari keringat sendiri lahir karya, dari karya lahir peradaban, dan dari peradaban identitas Papua akan terus hidup sepanjang zaman.
DO MI DOU. Segera datang, segera lihat, dan mari bersama merawat sastra Papua dari keringat sendiri. (*)









































