Beranda ADVERTORIAL Kunjungi Langsung Korban Terdampak Hujan Es, Kinogor Li Oh, Pesan Kepedulian Gerius...

Kunjungi Langsung Korban Terdampak Hujan Es, Kinogor Li Oh, Pesan Kepedulian Gerius Yoman untuk Keluarga yang Terluka di Kuyawagi

224
0
Gerius Yoman, salah satu putra asli dari wilayah Kuyawagi bersama masyarakat Kuyawagi berjalan bersama, saat melakukan kunjungan ke Kampung, Tumbuput Distrik Kuyawagi, Kabupaten Lanny Jaya, Kamis, (10/09/2026).

 

KUYAWAGE,tiiruu.com – Di tengah hamparan tanah yang mengering, kepungan puncak gunung batu Golonikeme, udara yang dingin mencekam, kebun yang rusak, dan luka akibat bencana alam yang melanda masyarakat Kuyawagi, Goa Balim, dan Wano Barat, sebuah perjumpaan penuh haru terjadi. Bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi kepulangan seorang anak asli daerah yang datang membawa pesan kepedulian dan kekuatan bagi keluarganya yang sedang menghadapi masa sulit.

Gerius Yoman, salah satu putra asli dari wilayah Kuyawagi, memilih kembali menginjak tanah leluhurnya untuk melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak bencana ekstrem kekeringan dan hujan es yang menghancurkan sumber pangan warga.

Sebelum tiba di lokasi bencana yang berada di ketingian 2.834 meter diatas permukaan laut pada Kamis (10/08/2026), Gerius terlebih dahulu mengirimkan tiga ekor babi dan sayur-mayur dari Wamena menuju Kuyawagi satu hari sebelumnya dengan berjarak sekitar 110 kilometer dengan medan perjalanan yang cukup sulit menajak dan curam.

Bagi masyarakat setempat, babi bukan hanya sekadar bantuan makanan, tetapi memiliki makna budaya yang mendalam sebagai simbol penghormatan, kebersamaan, dan ikatan keluarga.
Perjalanan menuju Kuyawagi sebagai kepedulian bukan pertama kali bagi Gerius tapi sebelumnya ia dan keluargga perna berkunjung pada musiba yang sama di tahun – tahun sebelumnya, dan kini dia kembali lagi usai setelah dirinnya bebes dari jeruji besi mengunjungi keluagga di wilayah itu.

Tidak mudah. Ketika rombongan Gerius tiba di batas akhir pengerjaan jalan, kendaraan harus ditinggalkan. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus jalan yang baru di perbaiki menuju lokasi masyarakat yang telah menunggu sejak pagi.

Kedatangan rombongan disambut oleh hamparan kuning rerumputan dan hitam warna daun ubi jalar yang telah mengering dan para mama – mama dan anak-anak dengan suasana penuh haru. Sebagian warga mengoleskan lumpur di wajah sebagai simbol duka atas bencana yang melanda tanah mereka, namun sekaligus menjadi tanda syukur atas kehadiran seorang anak yang datang melihat langsung penderitaan mereka.

Tangisan dan nyanyian tradisional mengiringi perjalanan rombongan menuju lokasi berkumpulnya masyarakat. Dari kejauhan, suara lantunan adat menggema dari dalam hutan Kuyawagi, menggambarkan kerinduan dan rasa kehilangan masyarakat yang sedang menghadapi kerusakan alam serta ancaman terhadap kehidupan mereka.

Setelah berjalan lebih dari satu kilometer, rombongan akhirnya tiba di lokasi Kampung Tumbuput tempat warga yang terdampak bencana. Sapaan adat “Wa Wa Wa” terdengar sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan kepada Gerius Yoman yang dianggap sebagai bagian dari keluarga besar mereka.

Suasana semakin emosional ketika para ibu, anak-anak, hingga para tetua adat menyambut kedatangannya dengan air mata. Mereka datang membawa harapan secara moral dan budayah di tengah kondisi sulit, setelah kebun-kebun masyarakat rusak akibat kekeringan dan hujan es yang menghantam tanaman lokal seperti ubi jalar sebagai sumber pangan utama masyarakat pegunungan.

Bagi keluarga besar di Kuyawagi, kedatangan Gerius memiliki makna tersendiri. Setelah menjalani masa hukuman hampir tiga tahun lebih dan baru kembali ke tengah keluarga, kepulangannya menjadi momen penuh syukur dan haru.Nyanyian ratapan adat menggambarkan perasaan masyarakat yang lama menantikan kehadiran anak mereka kembali ke kampung halaman.

Pendeta Gumanus Telenggen menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian Gerius yang memilih datang langsung melihat kondisi masyarakat di lokasi bencana bersama masyarakat di Kampung Tumbuput.

“Kami tidak memberikan sesuatu apa pun kepada anak (Gerius Yoman), tetapi kehadiran anak sudah memberikan kekuatan bagi kami,” ujar Pendeta Telenggen.

Menurutnya, masyarakat saat ini sedang berada dalam suasana duka akibat bencana yang melanda wilayah mereka. Namun kehadiran keluarga yang datang memberikan dukungan moral menjadi kekuatan tersendiri bagi warga.

“Kita mengalami bencana ini sehingga kami sedang dalam duka. Maka anak sebagai keluarga kami datang berkunjung, jadi kami menyampaikan ucapan terima kasih,” katanya.

Sementara itu, Gerius Yoman mengatakan kunjungannya bukan hanya sebagai bentuk kepedulian, tetapi juga karena dirinya memiliki ikatan emosional dengan daerah tersebut. Ia mengaku pernah mengalami kondisi serupa ketika masih kecil sehingga memahami penderitaan masyarakat yang kini terjadi.

“Saya bukan orang baru di tempat ini. Masa kecil saya habis di tempat ini dan saya tahu bencana ini rasanya seperti apa,” kata Gerius.

Ia mengatakan setelah keluar dari masa hukuman, dirinya memilih kembali ke kampung halaman untuk bertemu keluarga dan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

“Setelah keluar dari penjara, saya belum sempat kembali ke kampung. Hari ini saya datang berkunjung kembali. Kinogor li oh,” ujarnya.

Ungkapan adat Kinogor Li Oh An Ege Nogor Li Oh yang disampaikan Gerius menggambarkan rasa kepedulian yang mendalam, ikut merasakan penderitaan masyarakat akibat bencana, sekaligus menjadi ungkapan kasih keluarga yang kembali menyambut anak mereka.

Kunjungan tersebut bukan hanya membawa bantuan berupa kebutuhan pangan, tetapi juga menghadirkan pesan bahwa masyarakat Kuyawagi tidak sendiri menghadapi bencana. Di tengah tanah yang sedang terluka, kehadiran seorang anak dari tanah itu menjadi penguat bagi keluarga yang sedang berjuang dana bertahan dengan kerasnya alam. (*).