Beranda POLHUKAM Mama Ferdinandina Wawedu Ibo Yatipai, Dimata Senator Eka Kristina Yeimo adalah Pejuang...

Mama Ferdinandina Wawedu Ibo Yatipai, Dimata Senator Eka Kristina Yeimo adalah Pejuang dan Pelopor dari Pegunungan Papua 

698
0

Nabire, tiiruu.com – “Mama Ferdinandina adalah gambaran nyata perempuan Papua yang lahir dari penderitaan, tetapi tumbuh menjadi suara keberanian. Kisah hidupnya bukan hanya cerita keluarga, melainkan sejarah panjang perempuan Papua yang selama ini jarang dicatat negara,” ujar Eka Kristina Yeimo, Senator asal Provinsi Papua Tengah, saat mengenang perjalanan hidup Mama Ferdinandina Wawedu Yatipay Ibo.

 

Menurut Eka, Mama Ferdinandina bukan sekadar tokoh, melainkan simbol ketahanan perempuan Papua yang sejak lahir sudah berhadapan dengan kerasnya alam, konflik, dan ketidakadilan struktural.

 

“Ia lahir di hutan, dibesarkan dalam keterbatasan, tetapi hari ini berdiri di pusat negara membawa suara Orang Asli Papua. Itu bukan perjalanan biasa,” katanya, kepada tiiruu.com, Kamis (29/1/2026).

Mama Alm. Ferdinanda Ibo Yatipai
Mama Alm. Ferdinanda Ibo Yatipai

Lahir di Tengah Hutan, Diangkat oleh Keteguhan Perempuan Papua

 

Kisah perjuangan perempuan Papua kembali mengemuka melalui perjalanan hidup Mama Ferdinandina Wawedu Yatipay Ibo, perempuan Papua asal Kampung Weya, yang lahir dalam kondisi serba keterbatasan di tengah hutan rimba, namun kini berdiri sebagai salah satu tokoh perempuan Papua yang memperjuangkan hak-hak Orang Asli Papua di tingkat nasional.

 

Mama Ferdinandina lahir pada malam 2 Agustus 1945, di tengah perjalanan ibunya, Mama Lusia Etike Mote, yang saat itu berjalan kaki dari Kampung Wagete menuju Kampung Yoba. Dalam kondisi hamil tua, Mama Lusia melahirkan di bawah sebatang pohon besar di tengah hutan, tanpa bantuan medis dan penerangan, hanya ditemani beberapa perempuan yang ikut dalam rombongan.

 

Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Ferdinandina Wawedu Yatipay. Setelah melahirkan, sang ibu tetap melanjutkan perjalanan sejauh kurang lebih dua jam menuju Kampung Yoba dengan menggendong bayi yang baru lahir—sebuah potret kerasnya kehidupan perempuan Papua pada masa itu.

 

Anak Perjuangan dari Tanah Adat Weya

 

Kelahiran Mama Ferdinandina dikenang keluarga dan masyarakat adat sebagai simbol perjuangan perempuan Papua yang lahir dari penderitaan, namun tumbuh dalam keteguhan hidup. Ia berasal dari keluarga besar Moyang Yatipay, tokoh adat Suku Weya yang dikenal sebagai pemimpin adat dan kepala suku yang disegani.

 

Dalam catatan adat, Moyang Yatipay merupakan figur penting yang dihormati masyarakat, tetapi juga mengalami tekanan dan konflik antarsuku yang memaksa keluarganya mengungsi ke wilayah Enarotali demi menyelamatkan nyawa dan keberlangsungan keluarga.

 

Masuknya Injil ke wilayah adat Suku Weya turut mengubah kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Keluarga Yatipay menjadi salah satu penerima Injil dan meninggalkan praktik kepercayaan lama—sebuah perubahan besar yang ikut membentuk nilai perjuangan Mama Ferdinandina di kemudian hari.

 

Perempuan Papua: Dipinggirkan, tetapi Tetap Menopang Kehidupan

 

Dalam perjalanan hidupnya, Yeimo mengatakan Mama Ferdinandina menjadi bagian dari generasi perempuan Papua yang tidak hanya berjuang di ruang domestik, tetapi juga terlibat aktif dalam perjuangan sosial, ekonomi, dan politik.

 

“Perempuan Papua memikul peran ganda: melahirkan dan membesarkan anak, bekerja di kebun, mencari kayu bakar, sekaligus menopang ekonomi keluarga,”katanya.

 

Eka Kristina Yeimo menegaskan, peran perempuan Papua selama ini kerap tidak diakui dalam kebijakan pembangunan.

 

“Negara sering bicara soal Papua, tetapi lupa bahwa perempuan adalah penyangga utama kehidupan Orang Papua,” ujarnya.

Mama Alm. Ferdinandina Ibo Yatipai
Mama Alm. Ferdinandina Ibo Yatipai

Yeimo mengatakan, kisah Mama Ferdinandina juga menjadi pintu masuk kritik terhadap kebijakan negara di Papua, khususnya implementasi Undang-Undang Otonomi Khusus yang dinilai belum menyentuh akar persoalan perempuan Papua.

 

“Akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi bagi perempuan Papua masih terbatas. Dalam konteks konflik, perempuan kerap menjadi korban langsung maupun tidak langsung pelanggaran HAM. Sejumlah peristiwa pelanggaran HAM berat—Biak Berdarah 1996, Wasior 2003, Wamena 2003, dan Abepura 2000—menjadi catatan kelam yang menyisakan trauma panjang bagi perempuan Papua,”katanya.

 

Lanjut Yeimo bahwa Mama Ferdinandina Wawedu Yatipay Ibo tercatat sebagai salah satu perwakilan perempuan Papua di lembaga negara. Dari ruang-ruang formal di MPR/DPR RI, ia terus menyuarakan keadilan, pengakuan jati diri Orang Asli Papua, serta penghormatan terhadap hak-hak perempuan dan masyarakat adat Papua.

 

“Perjalanan Mama Ferdinandina mengajarkan bahwa perempuan Papua tidak pernah diam. Mereka hanya terlalu lama tidak didengar,” tutup Eka Kristina Yeimo.

 

Kisah hidup Mama Ferdinandina menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan Papua bukan cerita masa lalu, melainkan proses panjang yang terus berlangsung—dari hutan rimba, tanah adat, hingga pusat kekuasaan negara.

 

“Kami akan selalu mengenangmu mama Ferdinanda Ibo Yatipai selamat jalan mendahului kami,”katanya.

Aktivis Perempuan Papua Ester Burako mengatakan, mantan Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Daerah Pemilihan (Dapil) Papua Ferdinanda W Ibo Yatipay, Selasa (27/1) dikabarkan berpulang.

Ester Burako mengatakan mama Ferdinanda Ibo Yatipai adalah, pendiri Gereja Mesianik di Tanah Papua meninggal di Manokwari, kota Provinsi Papua Barat dalam usia 80 tahun.

“Selamat jalan mama Ibo. Terima kasih perempuan besar atas dedikasimu untuk tanah dan negeri West Papua. Kiranya Tuhan memberikan penghiburan dan kekuatan bagi suami, anak-anak, dan cucu. Juga bagi keluarga besar dan jaringan kerja yang selama ini bersama dengan Mama Ibo,” ujar Ester Burako melalui citannya di grup Aliansi Women Esther Papua di Jayapura, Papua, Selasa (27/1).

 

Semasa hidup, Almarhumah aktif di sejumlah organisasi hingga mendapat mandat rakyat sebagai anggota DPD RI. Ia dikenal sebagai pendiri Jembatan Israel-Papua (JIP) dan mantan Ketua Umum Solidaritas Perempuan Papua.

 

Ferdinanda Ibo Yatipai pernah duduk sebagai anggota DPD RI menggantikan Tonny Tesar yang terpilih menjadi Bupati Kabupaten Kepulauan Yapen. Ferdinanda bukan wajah baru di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta.

 

Pada periode sebelumnya, Yatipai, tokoh perempuan Papua, juga mewakili masyarakat daerahnya mengemban mandat rakyat di Senayan.

 

“Mama Papua, pejuang Papua yang tangguh. Selamat jalan menghadap Bapa Yahwe di Sorga usai menunaikan tugas panggilanmu di bumi,” kata aktivis Papua Selpius Bobii. (*)