Beranda ADVERTORIAL NPCI Papua Pegunungan Canangkan TC Berjalan Menuju Peparnas XVIII 2028 di Tengah...

NPCI Papua Pegunungan Canangkan TC Berjalan Menuju Peparnas XVIII 2028 di Tengah Keterbatasan Anggaran

173
0
National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Provinsi Papua Pegunungan mencanangkan Training Center (TC) berjalan bagi kontingen menuju Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVIII Tahun 2028. berlangsung di Lapangan Sepak Bola Phike, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Jumat (18/9/2026).

WAMENA,tiiruu.com – National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Provinsi Papua Pegunungan mencanangkan Training Center (TC) berjalan bagi kontingen menuju Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVIII Tahun 2028.

Pencanangan tersebut dirangkai dengan kegiatan syukuran NPCI Papua Pegunungan yang berlangsung di Lapangan Sepak Bola Phike, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Jumat (18/9/2026).

Ketua NPCI Provinsi Papua Pegunungan, Alex Alua, mengatakan pencanangan TC berjalan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurut dia, kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mempersiapkan atlet secara lebih terarah menghadapi Peparnas XVIII 2028.

“Ini bukan sekadar seremoni atau acara hiburan. Hari ini kami mencanangkan TC berjalan menuju Peparnas XVIII 2028,” kata Alex.

Ia meminta seluruh ketua cabang olahraga (cabor), pelatih dan asisten pelatih menjaga kekompakan dalam menjalankan program pembinaan. Pembinaan, kata dia, tidak hanya menyangkut kemampuan teknis atlet, tetapi juga pembentukan karakter.

“Ketua cabor, pelatih dan asisten pelatih harus tetap solid dalam melatih, membina dan mendidik karakter atlet, baik atlet senior, junior maupun atlet pemula,” ujarnya.

Alex berharap proses pembinaan yang dimulai sejak sekarang dapat melahirkan atlet-atlet yang mampu mengharumkan nama Papua Pegunungan pada Peparnas XVIII 2028.

Namun, pencanangan TC berjalan tersebut dilakukan dalam kondisi keterbatasan anggaran. Alex mengakui NPCI Papua Pegunungan belum memiliki donatur maupun dukungan pembiayaan yang memadai.

“Dalam keterbatasan ini kami tetap bisa melaksanakan pencanangan TC berjalan karena ada kesepakatan dari atlet dan pengurus. Kami tidak punya donatur, kami tidak punya uang,” ungkapnya.

Menurut Alex, kegiatan tersebut tetap dapat terlaksana berkat dukungan sejumlah pihak, termasuk bantuan dari lingkungan KONI serta kontribusi para atlet. Bahkan, para atlet secara sukarela mengumpulkan uang secara bersama-sama untuk mendukung pelaksanaan kegiatan.

“Teman-teman atlet juga mengumpulkan seribu, dua ribu. Dari situ kegiatan pencanangan TC ini bisa berjalan dengan baik,” katanya.

Untuk tahap awal, terdapat delapan cabor yang telah menjalankan program TC. Cabor tersebut antara lain atletik, renang, judo, menembak, panahan dan angkat berat, sementara beberapa cabor lainnya masih dalam tahap persiapan.

Alex menyebut NPCI Papua Pegunungan saat ini memiliki sekitar 12 cabor, namun empat di antaranya masih menunggu kepastian untuk masuk dalam program pembinaan.
Olahraga Disabilitas Bukan Lagi Alasan untuk Minder

Alex juga mengajak masyarakat di delapan kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan untuk melihat olahraga paralimpik sebagai ruang untuk meningkatkan prestasi sekaligus membuka peluang yang lebih besar bagi penyandang disabilitas.

Ia mengakui pada awalnya sebagian penyandang disabilitas masih merasa malu dan minder untuk terlibat dalam olahraga prestasi.

“Awalnya kita merasa malu dan minder karena ini olahraga untuk kaum difabel. Tetapi setelah ikut, ternyata olahraga disabilitas ini sangat baik,” katanya.

Menurut dia, olahraga paralimpik tidak hanya memberikan kesempatan kepada atlet untuk berprestasi, tetapi juga dapat membuka pengalaman dan peluang kesejahteraan bagi atlet.

Karena itu, NPCI Papua Pegunungan terus mendorong agar masyarakat di delapan kabupaten semakin mengenal dan mendukung olahraga paralimpik.

Alex juga menyebut saat ini terdapat atlet Papua Pegunungan yang telah masuk dalam level pembinaan nasional, termasuk atlet pelatnas dan atlet nasional.

Dispora Dorong Persiapan Sejak Dini

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Papua Pegunungan, Timotius Matuan, mengapresiasi langkah NPCI yang mulai menjalankan TC secara mandiri meski menghadapi keterbatasan anggaran.

“Saya berterima kasih kepada Ketua NPCI yang punya inisiatif menjalankan TC mandiri walaupun tidak memiliki biaya. Ini merupakan bentuk komitmen untuk mempersiapkan atlet,” kata Timotius.

Ia meminta para pelatih dan atlet menjalankan program latihan secara serius. Namun, program latihan juga harus disesuaikan dengan kondisi fisik dan kebutuhan masing-masing atlet agar kesehatan mereka tetap terjaga.

Timotius mengatakan kondisi efisiensi anggaran yang terjadi secara nasional turut berdampak terhadap ruang pembiayaan pembinaan olahraga. Ia berharap kondisi tersebut dapat kembali normal pada 2027 hingga 2028.

“Mudah-mudahan 2027 sampai 2028 efisiensi bisa normal, sehingga KONI dan NPCI bisa menjalankan program sesuai harapan, baik untuk PON maupun Peparnas,” ujarnya.

Ia memastikan pemerintah daerah akan berupaya menyiapkan dukungan pembinaan pada 2027, termasuk untuk pelaksanaan TC, pembinaan atlet dan penyediaan peralatan olahraga.

“Kami berharap pada 2027 ada dana pembinaan yang bisa kami siapkan untuk menjalankan TC, pembinaan dan peralatan. Kami juga akan memperhatikan cabor-cabor unggulan,” kata Timotius.

Dengan pencanangan TC berjalan tersebut, NPCI Papua Pegunungan mulai membangun persiapan jangka panjang menuju Peparnas XVIII 2028, meski harus dimulai dari keterbatasan. Targetnya, pembinaan atlet tidak berhenti pada seremoni, tetapi terus berjalan hingga melahirkan atlet berprestasi yang mampu membawa nama Papua Pegunungan di tingkat nasional.

Perlu di ketahui bahwa NPCI adalah induk organisasi olahraga resmi di Indonesia yang khusus membina, melatih, dan mengembangkan atlet penyandang disabilitas atau atlit dengan kondisi keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama. Organisasi ini diakui secara nasional maupun internasional, termasuk oleh International Paralympic Committee (IPC).

Peran dan Fungsi Utama
Pembinaan Atlet: Menghimpun dan melatih atlet disabilitas berprestasi dari berbagai daerah di Indonesia.
Ajang Internasional: Memfasilitasi atlet untuk bertanding di kompetisi tingkat dunia seperti Paralimpiade, Asian Para Games, dan ASEAN Para Games.
Ajang Nasional: Menyelenggarakan kompetisi tingkat nasional seperti Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas). (*).