Beranda ADVERTORIAL KO’SAPA Resmi Dipimpin Mecky Tebai, Siap Perkuat Pelestarian Sastra Papua

KO’SAPA Resmi Dipimpin Mecky Tebai, Siap Perkuat Pelestarian Sastra Papua

281
0
Mantan Ketua KO'SAPA Hengky Yeimo dan Ketua KO'SAPA terpilih Mecky Tebai saat Perayaan HUT Mambesak ke 48 di Rumah Inspirasi Kebadabi, Mapidoba, Rabu, (05/6/2026)
Mantan Ketua KO'SAPA Hengky Yeimo dan Ketua KO'SAPA terpilih Mecky Tebai saat Perayaan HUT Mambesak ke 48 di Rumah Inspirasi Kebadabi, Mapidoba, Rabu, (05/6/2026)

NABIRE, TIIRUU.COM – Komunitas Sastra Papua (KO’SAPA) resmi menetapkan Mecky Tebai sebagai Koordinator Umum melalui hasil Musyawarah KO’SAPA II yang digelar di Nabire, Papua Tengah. Penetapan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat organisasi sebagai ruang bersama bagi pegiat sastra, budaya, dan literasi Papua dalam menjaga serta mewariskan kekayaan budaya kepada generasi mendatang.

Mandat kepemimpinan diberikan setelah forum monitoring dan evaluasi organisasi yang dilaksanakan pada 24 Juli 2026 di Nabire. Dalam forum tersebut, seluruh peserta musyawarah menyepakati perlunya restrukturisasi kepengurusan agar KO’SAPA semakin efektif menjalankan perannya sebagai komunitas yang bergerak di bidang sastra, kebudayaan, dan literasi.

Selain menetapkan kepemimpinan baru, musyawarah juga menyusun struktur organisasi. Mecky Tebai dipercaya sebagai Koordinator Umum, didampingi Musa Boma dan Hengky Yeimo sebagai Sekretaris, serta Theresia Tekege sebagai Bendahara.

Mecky Tebai mengatakan, kepengurusan baru akan mengedepankan kerja-kerja kebudayaan yang berorientasi pada pelestarian sastra Papua melalui dokumentasi, pendidikan literasi, hingga ruang-ruang ekspresi bagi generasi muda.

“Komunitas Sastra Papua hadir dengan keyakinan bahwa sastra bukan sekadar karya tulis, tetapi merupakan nyanyian rakyat yang telah hidup sejak lama. Di dalamnya tersimpan lagu-lagu rakyat, dongeng, cerita rakyat, petuah para leluhur, mitologi, hingga nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Semua itu merupakan identitas budaya yang harus dijaga bersama,” ujarnya.

Menurut Mecky, Papua memiliki kekayaan sastra lisan yang sangat besar. Tradisi bertutur yang diwariskan oleh para tetua adat selama ratusan tahun menjadi sumber pengetahuan tentang sejarah, hubungan manusia dengan alam, nilai kemanusiaan, hingga filosofi hidup masyarakat adat. Namun, sebagian warisan tersebut mulai terancam hilang karena minimnya dokumentasi serta semakin berkurangnya generasi muda yang mengenal bahasa dan cerita daerahnya.

Karena itu, KO’SAPA akan memfokuskan sejumlah program prioritas, antara lain pendokumentasian sastra dan budaya Papua, penyelenggaraan diskusi dan bedah karya, pengembangan ruang baca, pentas sastra dan seni, penerbitan karya penulis Papua, serta berbagai aksi kebudayaan yang mendorong pelestarian bahasa ibu dan tradisi lisan di berbagai wilayah Papua.

“Kami ingin sastra Papua tidak hanya hidup di ruang-ruang diskusi, tetapi hadir di sekolah, kampung, rumah baca, sanggar, hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Sastra harus kembali menjadi media pendidikan karakter dan identitas orang Papua,” katanya.

Mantan Koordinator KO’SAPA, Hengky Yeimo, mengatakan restrukturisasi organisasi dilakukan sebagai langkah memperkuat peran komunitas dalam menghadapi tantangan pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.

“KO’SAPA tidak hanya menjadi ruang berkumpul bagi para pegiat sastra, tetapi juga menjadi tempat mencetak kader-kader muda Papua yang memiliki kepedulian terhadap budaya, literasi, dan kemanusiaan. Kami ingin semakin banyak anak muda yang menulis, mendokumentasikan cerita rakyat, dan mencintai bahasa daerahnya sendiri,” ujar Hengky.

Ia menambahkan, keberadaan komunitas sastra memiliki peran penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat Papua. Menurutnya, sastra merupakan salah satu medium yang mampu merekam sejarah, pengalaman hidup, serta nilai-nilai budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Selama beberapa tahun terakhir, sastra Papua menunjukkan perkembangan yang cukup pesat melalui lahirnya komunitas-komunitas literasi, rumah baca, festival sastra, penerbitan buku, hingga ruang-ruang diskusi yang melibatkan penulis muda dari berbagai wilayah di Tanah Papua. Meski demikian, tantangan masih cukup besar, terutama dalam pendokumentasian sastra lisan, pelestarian bahasa daerah, dan perluasan akses literasi di kampung-kampung.

Melalui kepemimpinan baru ini, KO’SAPA berharap dapat membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas seni, lembaga adat, gereja, serta berbagai pihak lainnya untuk memperkuat gerakan literasi berbasis budaya Papua.

Dengan semangat “Membiasakan, Merawat, dan Menumbuhkan Sastra Papua dari Keringat Sendiri,” KO’SAPA menegaskan komitmennya untuk menjadikan sastra sebagai bagian dari gerakan kebudayaan yang hidup, tumbuh, dan memberi manfaat bagi masyarakat Papua, sekaligus memastikan warisan cerita, bahasa, dan nilai-nilai leluhur tetap lestari di tengah perubahan zaman.

Yeimo menyampaikan banyak terimakasih kepada seluruh rakyat Papua yang telah memberikan mandat memimpin selama 12 tahun organisasi kosapa.

“Selama saya pimpin apabila ada hal hal yang tidak berkenan di hari orang Papua saya minta maaf. Hal hal yang kami sudah lakukan kiranya dapat dipertahankan dan dilaksanakan oleh pengurus yang baru terpilih,” katanya.

Lanjut Yeimo, bahwa kerja ini cukup rumit tetapi dengan adanya kolaborasi saya optimis semua akan berjalan lancar.

“Generasi muda Papua harus peduli cinta akan budaya dan sastra Papua kita jangan terlalu sering belajar sastra dari luar Papua tetapi bagimana kita gali terus budaya dan sastra agar kita bisa menyelamatkan kebudayaan di saman sekrang ini,”katanya.