Beranda ADVERTORIAL Krisis Air Hambat Pertanian, Kelompok Tani Onago Desak Pemerintah Bangun Sumur Bor

Krisis Air Hambat Pertanian, Kelompok Tani Onago Desak Pemerintah Bangun Sumur Bor

610
0
Ketua Kelompok Tani Kampung Onago, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Yesaya Giyai, menunjukkan lokasi usaha pertanian dan pembibitan yang dikelola kelompoknya. Ia berharap pemerintah membangun sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bagi pengembangan pertanian, peternakan, perikanan, dan pembibitan tanaman - Doc, AMY
Ketua Kelompok Tani Kampung Onago, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Yesaya Giyai, menunjukkan lokasi usaha pertanian dan pembibitan yang dikelola kelompoknya. Ia berharap pemerintah membangun sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bagi pengembangan pertanian, peternakan, perikanan, dan pembibitan tanaman - Doc, AMY

DEIYAI, TIIRUU.COM – Krisis air menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi kelompok tani di Kampung Onago, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, dalam mengembangkan usaha pertanian, peternakan, perikanan, dan pembibitan tanaman.

Ketua Kelompok Tani, Yesaya Giyai, mengatakan keterbatasan akses air telah menjadi persoalan yang mereka hadapi selama menjalankan usaha secara mandiri selama kurang lebih 30 tahun.

Ia meminta Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui dinas terkait maupun Pemerintah Kabupaten Deiyai membangun sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air kelompok tani.

“Kami sangat membutuhkan sumur bor agar tanaman bisa disiram dengan baik. Tanpa air, hasil pertanian kami sangat terganggu,” kata Yesaya kepada media ini, Jumat (7/8/2026).

Menurutnya, kelompok tani yang beranggotakan lima orang tersebut selama ini menjalankan usaha berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sendiri. Bibit tanaman diproduksi secara mandiri, sementara proses perawatan dilakukan tanpa pelatihan maupun pendampingan dari pemerintah.

“Kami hanya berpegang pada prinsip Motiitoo, yang artinya semua sudah tersedia, tinggal kami mau bekerja atau tidak. Itu yang selama ini menjadi semangat kami,” ujarnya.

Yesaya menjelaskan, hampir seluruh usaha yang mereka jalankan membutuhkan ketersediaan air, terutama untuk pertanian, pembibitan tanaman, peternakan, dan perikanan.

Namun, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ia harus mengambil air dari sungai yang lokasinya cukup jauh. Kondisi itu membuat biaya produksi meningkat. Bahkan, untuk menyiram tanaman yang telah disemai, dirinya dapat mengeluarkan biaya hingga sekitar Rp100 ribu per hari.

Kondisi semakin sulit saat musim kemarau. Kolam ikan yang dikelolanya mengalami kekeringan sehingga ikan yang dibudidayakan mati dan menyebabkan kerugian bagi kelompok tani.

Pernah Pasok 10 Ribu Bibit Cemara

Di tengah berbagai keterbatasan, Yesaya mengapresiasi perhatian Pemerintah Kabupaten Deiyai terhadap usaha kelompok tani.

Ia menyebut pada Desember 2025, Bupati Deiyai Melkianus Mote membeli sekitar 10 ribu bibit pohon cemara yang diproduksi kelompok tani untuk mendukung program penghijauan di sepanjang bantaran sungai di Kabupaten Deiyai.

Menurut Yesaya, pembelian tersebut memberikan dampak positif terhadap pemasaran hasil pembibitan kelompok tani.

Karena itu, ia berharap Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Kehutanan maupun Pemerintah Kabupaten Deiyai dapat kembali membeli bibit pohon yang saat ini telah siap dipasarkan.

“Bibit-bibit pohon yang kami siapkan sekarang sudah ada dan siap dipasarkan. Kami berharap pemerintah dapat kembali memberikan perhatian dan membantu pemasaran hasil pembibitan kami,” katanya.

Butuh Mesin Pengolah Pupuk

Selain persoalan air, kelompok tani tersebut juga menghadapi keterbatasan sarana produksi, khususnya dalam pengolahan pupuk organik.

Yesaya mengatakan hingga kini pupuk organik masih diproduksi secara manual menggunakan tenaga anggota kelompok.

“Sampai sekarang kami masih mengolah pupuk dengan tenaga sendiri. Kalau ada bantuan mesin, tentu pekerjaan kami akan jauh lebih ringan,” ujarnya.

Untuk mendukung pengembangan usaha pertanian, kelompok tani telah menyiapkan lokasi khusus pembibitan berbagai komoditas, antara lain cabai, tomat, mentimun, dan terong Belanda.

Mereka juga memiliki tiga lokasi budidaya yang digunakan untuk pembibitan pohon, penanaman sayur-mayur, serta petatas yang dikelola secara bersama oleh anggota kelompok.

Yesaya berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kelompok tani karena usaha yang mereka jalankan ikut mendukung ketersediaan pangan, khususnya sayur-mayur dan buah-buahan bagi masyarakat di pasar lokal.

Kios Maju Tani Terkendala Modal

Selain pertanian, Yesaya juga mengembangkan usaha koperasi melalui Kios Maju Tani. Namun, usaha tersebut masih menghadapi keterbatasan modal sehingga sebagian kebutuhan modal usaha diperoleh melalui pinjaman bank.

Kios yang dikelolanya menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat, seperti minyak tanah, ayam, dan sembako. Namun, keterbatasan tempat membuat aktivitas usaha masih dilakukan dalam bangunan yang relatif kecil.

Ia berharap pemerintah dapat membantu penyediaan modal usaha maupun pembangunan kios yang lebih layak sehingga usaha tersebut dapat berkembang dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat sekitar.

“Saya berharap pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah dapat melihat kondisi kami. Kelompok tani ini benar-benar bekerja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena itu, saya berharap kekurangan yang kami hadapi dapat diperhatikan dan mendapat solusi dari pemerintah,” kata Yesaya.

Menurutnya, pembangunan sumur bor, bantuan mesin pengolah pupuk, dukungan pemasaran bibit, serta penguatan modal usaha menjadi kebutuhan penting untuk mendorong kelompok tani agar dapat berkembang secara berkelanjutan.