YAHUKIMO, Tiiruu.com — Persekutuan Gereja-gereja Yahukimo (PGGY) melaporkan dugaan penembakan terhadap enam warga sipil di Kampung Samboga, Distrik Seredala, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, kepada Human Rights Defender (HRD).
Laporan tersebut disampaikan melalui keterangan yang diterima HRD terkait kondisi warga setelah dugaan penembakan pada Jumat, 18 September 2026. Dari enam warga yang dilaporkan menjadi korban, dua orang telah ditemukan dalam kondisi kritis dan dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dekai, sedangkan empat lainnya masih dalam pencarian.
Proses pencarian dan evakuasi dilakukan pada Selasa, 22 September 2026, sekitar pukul 10.00 hingga 12.00 WIT. Tim melibatkan PGGY, kepala suku, kepala desa, keluarga korban, intelektual, serta aktivis kemanusiaan.
Dalam laporan kepada HRD, PGGY menyebut proses evakuasi mengalami keterlambatan karena akses menuju lokasi disebut tertutup sejak kejadian. Akibatnya, korban yang terluka dilaporkan tidak segera mendapatkan pertolongan medis.
Enam Warga Dilaporkan Menjadi Korban
Enam warga yang disebut dalam laporan tersebut masing-masing Yonas Aje (22), Pilatus Porpom (25), Daniel Timuka (19), Kani Borpom (20), Yanus Patika (28), dan Elli Timuka (28).
Pilatus Porpom dan Daniel Timuka dilaporkan telah ditemukan dan dievakuasi ke RSUD Dekai. Sementara Yonas Aje, Kani Borpom, Yanus Patika, dan Elli Timuka masih dalam pencarian berdasarkan laporan yang disampaikan kepada HRD.
Menurut laporan tersebut, keenam warga merupakan masyarakat asli setempat yang bekerja sebagai pekerja swasta sekaligus melakukan aktivitas pendulangan emas di wilayah Samboga.
PGGY dalam laporannya menyebut para warga sedang dalam perjalanan pulang dari lokasi pendulangan ketika peristiwa terjadi.
PGGY Laporkan Dugaan Penembakan
Dalam laporan kepada HRD, PGGY menyebut dugaan penembakan terjadi setelah keenam warga meninggalkan lokasi pendulangan emas dan menuju Kampung Samboga.
Laporan tersebut menyebut aparat sebelumnya diduga melakukan pemantauan menggunakan drone. Ketika warga tiba di sekitar ujung jalan aspal yang terputus, kemudian terjadi penembakan.
Akibat kejadian itu, menurut laporan PGGY, empat warga melarikan diri ke hutan, sedangkan dua lainnya ditemukan dalam kondisi kritis.
PGGY menyebut dugaan penembakan tersebut melibatkan aparat keamanan yang bertugas di wilayah Yahukimo. Namun, informasi mengenai pihak yang bertanggung jawab atas penembakan tersebut masih berupa laporan dan belum terverifikasi secara independen.
Sebelumnya, pihak TPNPB juga telah mengklaim adanya penembakan terhadap warga sipil di Samboga. Sementara pihak TNI melalui pejabat di Yahukimo menyatakan belum mengetahui adanya insiden sebagaimana yang diberitakan dan masih menunggu informasi resmi dari satuan terkait.
Pdt. Atias: Gereja Menyesalkan Kekerasan terhadap Warga Sipil
Ketua PGGY, Pdt. Atias Matuan, menyatakan gereja menyesalkan dugaan tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil.
“Siapapun dirinya, entah aparat keamanan atau penegak hukum, bila tidak taat kepada hukum Allah dan mencabut nyawa manusia lain secara semena-mena, maka ia terkutuk di mata Pencipta,” kata Atias dalam laporan yang disampaikan kepada HRD.
Menurut Atias, masyarakat sipil tidak seharusnya menjadi korban dalam konflik bersenjata. Ia mengatakan gereja menyesalkan tindakan yang disebutnya tidak manusiawi tersebut.
“Tindakan brutal seperti ini setidaknya dilakukan antara militer TPNPB dan TNI-POLRI, bukan terhadap masyarakat sipil yang tak bersenjata,” ujarnya.
Atias juga melaporkan dugaan kerusakan gedung Gereja GIDI Samboga dalam operasi tersebut. Menurut laporan yang diterima HRD, pintu, kursi, dan mimbar gereja disebut mengalami kerusakan.
Ia meminta apabila dugaan tersebut terbukti dilakukan aparat, negara melalui institusi terkait bertanggung jawab terhadap kerusakan fasilitas gereja.
Kepala Suku Minta Aparat Pahami Kehidupan Masyarakat
Kepala Suku Alipia Yalak meminta aparat keamanan memahami pola kehidupan masyarakat Yahukimo yang bergantung pada alam.
“Setiap anggota TNI-POLRI yang bertugas di Papua, terkhusus Yahukimo, harus tahu budaya masyarakat setempat, sebab orang Papua hidup dari hasil alam,” kata Alipia.
Ia menjelaskan masyarakat di wilayah pegunungan maupun rawa memiliki aktivitas berburu, berkebun, mencari ikan, dan mengolah hasil alam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Jika ada masyarakat rawa yang memegang panah, sumpit, dan berjalan di malam hari atau siang hari, ketahuilah bahwa mereka sedang mencari makan, sehingga aparat jangan asal bertindak,” ujarnya.
Alipia juga menyerukan agar pemerintah dan pihak yang terlibat dalam konflik mencari jalan penyelesaian secara damai.
Kepala Suku: Tanah Samboga Merupakan Tanah Adat
Kepala Suku Morome Busup mengatakan wilayah Samboga merupakan tanah adat yang dihuni masyarakat dari 12 suku.
“Di sini tidak ada tanah negara atau tanah Jawa. Di sini adalah tempat tanah adat milik masyarakat 12 suku, maka negara harus hati-hati ketika melakukan tindakan kekerasan,” kata Morome.
Ia mengatakan keberadaan masyarakat dan tanah adat tidak dapat dipisahkan sehingga setiap tindakan keamanan perlu memperhatikan kehidupan masyarakat setempat.
Intelektual Una Ukam Minta Akses Dibuka
Intelektual Suku Una Ukam mengapresiasi pihak-pihak yang terlibat dalam proses pencarian dan evakuasi korban.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Yahukimo dan DPRK Yahukimo membuka akses masyarakat agar warga dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Kami tegas meminta kepada Pemerintah Kabupaten Yahukimo, Bapak Bupati Didimus Yahulli, dan Ketua DPRK, Bapak Son Bahabol, agar segera membuka akses bebas supaya masyarakat beraktivitas dengan normal,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat sipil tidak selalu dicurigai sebagai bagian dari kelompok bersenjata.
Keluarga: Kami Bukan TPNPB
Perwakilan keluarga korban membantah bahwa warga yang menjadi korban merupakan anggota TPNPB.
“Kami bukan TPNPB. Di sini tempat masyarakat sipil menempati, di sini tempat manusia lahir, besar, dan tua. Jangan buat kami seperti orang baru di mata kalian,” kata perwakilan keluarga.
Keluarga juga mengaku mengalami tindakan kekerasan ketika berusaha memberikan penjelasan mengenai identitas warga yang berada di lokasi.
“Saya dikeroyok secara brutal ketika saya berusaha melindungi dan membela masyarakat,” katanya.
Ia mengatakan pihak keluarga telah berupaya menjelaskan kepada aparat bahwa warga yang berada di lokasi merupakan masyarakat sipil.
Empat Warga Masih Dicari
Hingga laporan ini disusun, dua korban telah mendapatkan perawatan di RSUD Dekai, sementara empat warga lainnya masih dalam pencarian.
Laporan mengenai penembakan, kondisi para korban, serta dugaan keterlibatan aparat masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dari pihak-pihak terkait. Karena itu, informasi mengenai kronologi dan pelaku dalam laporan PGGY kepada HRD tersebut perlu dibaca sebagai keterangan yang disampaikan oleh pihak pelapor.
PGGY bersama tokoh adat, keluarga, intelektual, dan pemuda berharap akses kemanusiaan tetap dibuka agar proses pencarian empat warga yang belum ditemukan dapat dilakukan serta para korban yang telah dievakuasi memperoleh penanganan medis.











































