Beranda ADVERTORIAL Bupati Willem Wandik : Festival Etnik Religi Tolikara 2026 Sebagai Bentuk Penghormatan...

Bupati Willem Wandik : Festival Etnik Religi Tolikara 2026 Sebagai Bentuk Penghormatan Terhadap Penginjil, Leluhur dan Momen Kebangkitan Ekonomi 

164
0
Bupati Kabupaten Tolikara Willem Wandik (tengah) di dampingi Wakil Bupati Yotam Wonda dan muspida dalam pucak acara , Festival Etnik Religi di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Rabu, (12/08/2026).

KARUBAGA,tiiruu.com – Lembah Tolikara kembali menjadi ruang perjumpaan antara iman, budaya, dan harapan masa depan. Melalui Festival Etnik Religi Tolikara Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Tolikara mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga warisan leluhur, memperkuat nilai keagamaan, serta menjadikan budaya sebagai kekuatan pembangunan daerah.

Festival yang berlangsung di Kota Karubaga pada 12–13 Agustus 2026 dengan tema “Lestarikan Budaya dan Perkuat Iman untuk Tolikara yang Maju, Damai, dan Beridentitas” ini menjadi momentum penting bagi masyarakat dari berbagai distrik, kampung, gereja, komunitas adat, seniman, pelaku usaha, hingga generasi muda.

Bupati Kabupaten Tolikara Willem Wandik dalam sambutannya mengatakan, Festival Etnik Religi bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi sebuah gerakan bersama untuk merawat identitas masyarakat Tolikara yang dibangun dari nilai iman, budaya, dan sejarah panjang daerah tersebut.

Menurut Willem Wandik, iman dan budaya bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya menjadi fondasi penting dalam membentuk kehidupan masyarakat yang berkarakter.

“Iman memberikan arah dan keselamatan, sementara budaya menjaga ingatan, identitas, bahasa, persaudaraan, serta penghormatan kepada leluhur,” pesan Bupati Tolikara.

Ia menjelaskan, festival tersebut juga menjadi bentuk penghormatan kepada para pembawa Injil, orang tua, dan leluhur yang telah mewariskan nilai kehidupan, kebersamaan, keberanian, serta keramahan kepada generasi saat ini.

Budaya Harus Menjadi Kekuatan Generasi Muda

Bupati Willem Wandik menegaskan bahwa budaya tidak boleh hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi harus menjadi kekuatan yang membangun masa depan.

Ia mengajak generasi muda Tolikara untuk mengenal, mencintai, dan menjaga budaya daerah agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, sekolah, gereja, keluarga, dan komunitas memiliki peran penting dalam memastikan nilai budaya tetap hidup melalui pendidikan, dokumentasi, seni, dan kegiatan masyarakat.

“Generasi muda harus memahami bahwa budaya adalah identitas. Tanpa budaya, sebuah masyarakat akan kehilangan akar dan jati dirinya,” ujarnya.

Festival Sebagai Ruang Pembelajaran dan Persatuan

Willem Wandik juga menyampaikan bahwa Festival Etnik Religi Tolikara harus menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat.

Kegiatan ini tidak hanya menampilkan seni dan budaya, tetapi juga mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan.

Ia berharap festival dapat menjadi tempat bertukar pengalaman antara masyarakat, pelaku seni, tokoh agama, tokoh adat, dan generasi muda.

Dengan demikian, festival tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi menjadi gerakan sosial yang memperkuat persatuan masyarakat Tolikara.

Menjaga Alam Sebagai Tanggung Jawab Iman

Dalam sambutannya, Bupati juga menyoroti pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab manusia kepada Tuhan.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat tidak dapat mengaku beriman dan berbudaya apabila hutan dirusak, sungai dicemari, serta lingkungan tidak dijaga.

Bagi masyarakat Tolikara, alam bukan hanya tempat mencari kehidupan, tetapi bagian dari sejarah, identitas, dan warisan leluhur.

Karena itu, Festival Etnik Religi Tolikara diarahkan menjadi kegiatan yang ramah lingkungan dengan mengedepankan kebersihan, pengurangan sampah plastik, serta kepedulian terhadap alam sekitar.

Membuka Peluang Ekonomi Masyarakat Lokal

Selain nilai budaya dan religi, Festival Etnik Religi Tolikara juga diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Bupati Willem Wandik menegaskan bahwa masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama dalam kegiatan besar seperti festival, bukan hanya menjadi penonton.

Mama-mama Papua, pemuda, petani, peternak, pengrajin, pelaku kuliner, fotografer, pengelola penginapan, hingga pelaku ekonomi kreatif diharapkan dapat mengambil peluang melalui kegiatan tersebut.

Produk lokal seperti makanan tradisional, kerajinan tangan, ukiran, busana adat, serta berbagai hasil kreativitas masyarakat harus mendapat ruang untuk berkembang.

Menurutnya, festival harus menjadi pintu masuk bagi pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat.
Tolikara Kirim Pesan Damai untuk Dunia

Melalui Festival Etnik Religi 2026, Tolikara ingin menunjukkan wajah daerah yang kaya akan budaya, iman, alam, dan sumber daya manusia.

Bupati Willem Wandik mengajak seluruh masyarakat agar menjadikan festival sebagai pesan damai dari Pegunungan Papua.

Dari Karubaga, Tolikara ingin menyampaikan bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan identitas. Justru pembangunan akan semakin kuat ketika berdiri di atas nilai budaya, iman, dan persatuan masyarakat.

“Festival ini adalah panggung untuk menunjukkan bahwa Tolikara memiliki kekuatan budaya, kehidupan yang damai, dan masa depan yang penuh harapan,” kata Willem Wandik. (*).