Beranda ADVERTORIAL TPNPB KODAP XVI Klaim Operasi di Yahukimo hingga Boven Digoel Picu Korban...

TPNPB KODAP XVI Klaim Operasi di Yahukimo hingga Boven Digoel Picu Korban dan Pengungsian

167
0

Nabire, tiiruu.com – Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB melaporkan meningkatnya intensitas konflik bersenjata di wilayah Yahukimo hingga Boven Digoel yang disebut mengakibatkan korban jiwa, kerusakan fasilitas sipil, dan pengungsian masyarakat.

 

Dalam siaran pers tertanggal Kamis, 19 Februari 2026, juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, menyampaikan pihaknya menerima laporan dari pimpinan operasi di lapangan mengenai pertempuran antara TPNPB dan aparat militer Indonesia di sejumlah titik konflik.

 

Menurut Sambom, operasi bersenjata juga terjadi di wilayah Korowai yang disebut menewaskan pilot dan kopilot pesawat yang diduga melakukan distribusi pasukan dan logistik militer. Ia menyatakan situasi tersebut memicu peningkatan operasi kedua pihak di kawasan konflik.

 

“Kami menerima laporan bahwa operasi militer yang berlangsung telah menimbulkan korban jiwa serta pengungsian besar-besaran warga sipil di wilayah konflik,” ujar Sambom.

 

Sambom dalam pernyataannya juga mengklaim sejumlah dampak situasi keamanan, antara lain terganggunya aktivitas penerbangan, penghentian kegiatan pendidikan, serta penutupan sejumlah fasilitas layanan publik di wilayah terdampak.

 

Selain itu, Sambom menuduh kepada aparat keamanan Indonesia adanya penangkapan terhadap warga sipil yang disebut tidak terlibat dalam konflik bersenjata.

 

“Kami mencatat bahwa sejumlah permukiman warga mengalami kerusakan akibat operasi militer darat dan udara,”katanya.

 

 

Dalam pernyataan yang sama, Sambom menyerukan agar pemerintah Indonesia membuka akses bagi lembaga kemanusiaan internasional, termasuk Palang Merah Internasional dan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk masuk ke wilayah konflik tanpa pembatasan.

 

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah Indonesia maupun aparat keamanan terkait klaim yang disampaikan TPNPB.

 

Konflik bersenjata di sejumlah wilayah Papua dalam beberapa waktu terakhir dilaporkan berdampak pada kondisi keamanan sipil, termasuk aktivitas pendidikan, layanan kesehatan, serta mobilitas masyarakat di daerah terdampak.