Beranda POLHUKAM Teolog Besar STFT Fajar Timur, P. Nico Dister OFM Wafat; Papua Kehilangan...

Teolog Besar STFT Fajar Timur, P. Nico Dister OFM Wafat; Papua Kehilangan Guru dan Pembimbing Rohani

281
0

Nabire, tiiruu.com – Kabar duka menyelimuti dunia akademik dan Gereja Katolik di Tanah Papua. Teolog dan Guru Besar Filsafat Teologi Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” Abepura, P. Prof. Dr. Nico Syukur Dister, OFM, meninggal dunia di Belanda pada Minggu, 12 April 2026.

 

Kepergian imam Fransiskan asal Belanda yang lahir pada 1939 itu meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi civitas akademika STFT Fajar Timur dan umat Katolik di Papua. P. Nico Dister dikenal sebagai sosok pendidik, pemikir, sekaligus pembimbing rohani yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya bagi Gereja dan masyarakat di Indonesia, terutama di Tanah Papua.

 

Salah satu alumni STFT Fajar Timur mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam atas wafatnya sang guru. “Hari ini adalah hari yang sangat menyedihkan bagi saya, bagi civitas akademika Fajar Timur dan rakyat Papua. Terima kasih Prof, engkau telah melahirkan banyak gembala Gereja dari Tanah Papua,” ujarnya dengan suara bergetar.

 

Ia juga mengenang sosok almarhum sebagai pribadi sederhana yang memancarkan kebijaksanaan ilahi. “Dalam kesederhanaannya, Prof Nico Dister memancarkan kebijaksanaan dari Bapa di surga. Ia bukan hanya mengajar teori, tetapi menunjukkan teladan hidup yang mencerminkan spiritualitas Santo Fransiskus Asisi dan Yesus Kristus sendiri,” katanya.

 

P. Nico Dister menempuh pendidikan filsafat dan teologi di Belanda, Belgia, dan Jerman Barat. Ia kemudian meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Leuven, Belgia, pada 1972. Selain itu, ia juga mendalami psikologi, khususnya psikologi agama, yang turut memperkaya pendekatan pemikirannya dalam teologi.

 

Sejak 1973, ia mulai mengajar di Indonesia, antara lain di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, STF Kateketik “Karya Wacana” Jakarta sejak 1977, serta STFT “Fajar Timur” Abepura sejak 1983. Di lembaga terakhir ini, ia juga pernah menjabat sebagai rektor kedua.

 

Selama hampir enam dekade pengabdiannya di Indonesia, khususnya Papua, P. Nico Dister dikenal telah membentuk banyak imam, teolog, dan bahkan uskup yang kini melayani di berbagai keuskupan di Tanah Papua.

 

Seorang rekan akademisi menyebut, kontribusi P. Nico tidak hanya terbatas pada ruang kelas. Ia juga meninggalkan warisan intelektual melalui sejumlah karya yang menjadi rujukan utama dalam studi filsafat dan teologi. Di antaranya *Bapak dan Ibu Sebagai Simbol Allah* (1983), *Filsafat Agama Kristiani* (1985), *Kristologi, Sebuah Sketsa* (1987), *Pengalaman & Motivasi Beragama* (1988), serta *Filsafat Kebebasan* yang terbit dalam beberapa edisi.

 

“Buku-buku beliau bukan hanya dipakai di Indonesia, tetapi juga dikenal di Eropa. Ia adalah teolog hidup yang berjasa besar bagi Gereja,” ujar seorang tokoh umat Katolik di Papua.

 

Dalam pemikirannya, P. Nico Dister juga dikenal memiliki perhatian terhadap keadilan sosial. Salah satu pernyataannya yang kerap dikenang adalah, “Orang Papua butuh diskriminasi positif,” yang mencerminkan kepeduliannya terhadap kelompok yang terpinggirkan.

 

Meski di usia lanjut ia kembali ke Belanda karena alasan kesehatan, dedikasi dan cintanya terhadap Tanah Papua tetap dikenang oleh para murid dan umat yang pernah disentuh pelayanannya.

 

“Kami tidak dapat membalas semua jasa Pater, tetapi kami akan selalu mengenang segala budi baik dan pengabdiannya,” kata seorang alumni.

 

Kepergian P. Nico Dister menjadi kehilangan besar bagi Gereja Katolik dan dunia pendidikan di Indonesia. Umat percaya, pengabdian dan karya-karyanya akan terus hidup dalam generasi yang telah ia didik.

 

“Para malaikat menyambutmu di surga. Selamat jalan Pater, beristirahatlah dalam damai abadi,” ujar umat mengenang.