PANIAI,tiiruu.com – Perhatian serius Pemerintah Daerah Kabupaten Paniai dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah kembali disorot menyusul keterlambatan pembayaran biaya kuliah dan tempat tinggal sejumlah mahasiswa asal Papua yang sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat.
Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu proses pendidikan tiga mahasiswa yang disebut telah berada pada tahap akhir masa studi. Mereka saat ini menempuh pendidikan pada bidang yang dinilai strategis bagi masa depan Papua, yakni Information Technology (IT), Management, dan Business.
Ketiga mahasiswa yang membutuhkan perhatian dan penyelesaian pembiayaan pendidikan tersebut adalah Seal Tiel Gobai, Michale Bunai, dan Melki Gobai.
Dalam sebuah seruan yang disampaikan kepada Bupati Paniai Yanpit Nawipa, Amd.Tek.yang tersebar di Group Whats App, pemerintah daerah diminta segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan biaya kuliah maupun tempat tinggal para mahasiswa tersebut.
“Kita jangan sampai karena keterlambatan biaya pendidikan dan tempat tinggal, perjuangan mereka untuk memperoleh ilmu dan membangun masa depan terhenti,” demikian inti permohonan yang disampaikan Dr. Manfred Gobai, Ph.D.Csm., Author & Assistant Professor at Baptist University of Florida. Minggu, (16/08/2026).
Menurutnya, persoalan tersebut tidak boleh dipandang sekadar sebagai masalah administrasi pembiayaan. Pendidikan mahasiswa Papua di luar negeri merupakan investasi sumber daya manusia yang akan menentukan kemampuan daerah menghadapi persaingan di masa depan.
Terlebih, bidang yang mereka pelajari berkaitan langsung dengan kebutuhan pembangunan modern. Penguasaan teknologi informasi, manajemen dan bisnis dinilai sangat penting bagi Papua agar tidak terus tertinggal dalam pengembangan sumber daya manusia.
“Bidang-bidang ini sangat penting untuk Papua. Kalau kita tidak fokus, kita tidak akan mampu bersaing di masa depan,” tegasnya.
Terancam Kehilangan Tempat Tinggal
Kekhawatiran terbesar saat ini bukan hanya menyangkut tertundanya pembayaran biaya kuliah. Keterlambatan biaya tempat tinggal juga disebut membuat mahasiswa menghadapi risiko kehilangan tempat tinggal selama menjalani pendidikan.
Situasi tersebut dinilai sangat memprihatinkan, terlebih para mahasiswa telah meninggalkan tanah Papua dan menjalani proses pendidikan dalam lingkungan akademik yang jauh dari keluarga.
Mereka juga disebut telah hampir menyelesaikan pendidikan. Karena itu, pemerintah daerah diminta tidak membiarkan persoalan pembiayaan justru menjadi hambatan pada tahap akhir perjuangan mereka.
Mahasiswa tersebut diketahui sedang menempuh pendidikan di Oregon State University dan Highland College di Amerika Serikat.
Investasi SDM Papua Tengah
Dr. Manfred Gobai menilai masyarakat Papua, khususnya masyarakat Mee, perlu melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Menurutnya, keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi salah satu tantangan besar yang harus dijawab secara serius.
Karena itu, mahasiswa yang telah memperoleh kesempatan belajar di luar negeri harus mendapatkan dukungan hingga menyelesaikan pendidikannya.
“Anak-anak yang telah mendapatkan kesempatan untuk belajar di Amerika Serikat harus serius didukung dan diperhatikan oleh Pemerintah Daerah,” ujarnya.
Ia berharap Bupati Paniai dapat mengambil langkah cepat untuk menyelesaikan persoalan tersebut, terutama karena para mahasiswa disebut membutuhkan kepastian dalam waktu dekat.
Permintaan penyelesaian dalam dua hari menjadi bentuk urgensi agar proses pendidikan mereka tidak semakin terganggu.
Bagi Papua Tengah, tiga mahasiswa tersebut bukan sekadar penerima bantuan pendidikan. Mereka merupakan bagian dari investasi sumber daya manusia yang diharapkan kelak kembali membawa pengetahuan, keterampilan dan pengalaman untuk memperkuat pembangunan daerah.
Kini, bola berada di tangan pemerintah daerah: memastikan bahwa perjalanan panjang anak-anak Papua menuju ruang-ruang pendidikan dunia tidak berhenti hanya karena persoalan biaya yang terlambat diselesaikan.(*).











































