Nabire, tiiruu.com – Sekertaris Pemuda Katolik Papua Tengah Natan Naftali Tebai mengatakan, Pemuda Katolik (PK) mendesak kepada Komnas HAM dapat melakukan investigasi kasus penembakan yang terjadi di kabupaten Dogiyai. Pemuda Katolik menegaskan Komnas HAM harus independen tanpa ada intimidasi dan campur tangan pihak manapun selama melakukan investigasi.
Peristiwa berdarah di Moanemani, Dogiyai, terjadi pada 31 Maret hingga 1 April 2026. Kejadian ini dipicu oleh situasi konflik yang memanas antara masyarakat dan aparat keamanan, yang kemudian berujung pada aksi kekerasan dan jatuhnya korban jiwa. Ketegangan yang tidak terkendali serta respons keamanan di lapangan menjadi faktor utama yang menyebabkan insiden tersebut terjadi.
Akibat dari pertikaian ini membuat korban berjumlah Tragedi berdarah di Dogiyai dari tanggal 31 Maret – 2 April 2026. Korban tewas kini bertambah.Lima korban tewas di tempat dan beberapa lainnya korban kritis.
Adapun ringkasan korban berdasarkan nama, tanggal kejadian, dan lokasi, Korban meninggal (5 orang), Siprianus Tibakoto (25) – 31 Maret 2026, Kampung Ikebo, Distrik Kamuu, Yulita Ester Pigai (70-an) – 31 Maret 2026, Kampung Ikebo, Distrik Kamuu, Martinus Yobee (17) – 31 Maret 2026, Moanemani (asal Kampung Idakotu, Distrik Kamuu), Angkian Edowai (20) – 1 April 2026, Distrik Dogiyai (asal Kampung Denemani), Ferdinan Auwe (23) – 2 April 2026, Moanemani (asal Kampung Puweta, Distrik Kamuu Selatan). Kemudian Anggota Polisi Bripka JE juga harus dilakukan investigasi. Korban luka/kritis, Maikel Waine (12) – 31 Maret 2026, dirawat di rumah (lokasi tidak disebut jelas), Pigai Kikibi (23) – 1 April 2026, Kampung Mauwa, Magapai Yobee (20) – 1 April 2026, Kampung Kimupugi
“Kami meminta kepada Komnas HAM untuk melakukan pemeriksaan ke semua satuan aparat kemanan kemudian masyarakat guna mengungkap pelaku pembunuhan terhadap Bripka JE dan Warga Dogiyai lainnya. Karena kalau pembunuh Bripka JE diungkapkan akan terungkap siapa aktor kekerasan di Dogiyai selama ini akan ketahuan kami harapkan Komnas HAM harus independen”katanya kepada tiiruu.com, Jumat (10/4/2026).
Tebai meminta kepada komnas HAM bertemu dengan masyarakat, tokoh pemuda tokoh Gereja, saksi saksi kunci yang ada pada saat itu. Agar data data yang diperoleh akurat.
“Kami berharap Komnas bisa bertemu dengan korban dan memeriksa bukti bukti akurat agar ketika mengungkapkan kasus ini terukur, dan memuaskan korban,” katanya.
Lanjut Tebai bahwa, komnas ham juga diharapkan untuk diberikan jaminan hukum bagi mereka. “Saksi saksi mata agar mereka tidak ditekan dengan kekuatan lain diharapkan agar mereka dilindungi,”katanya.
Tebai mengatakan bahwa pemerintah bisa “berkolaborasi” dengan komnas HAM untuk bisa memberikan pengobatan kepada korban di rumah sakit terdekat.
“Kami harapkan agar warga yang dapat tembak harus segera dibawa ke Nabire atau timika untuk mendapatkan pengobatan, korban dari polisi bisa segera dibawa kenapa warga sipil tidak bisa dibawa secepatnya”katanya.
Tebai berharap selain komnas ham dan kementrian HAM diharapkan juga gar Tim independen harus naik melakukan investigasi yang mendalam.
“Saya harap agar harus ada tim independen yang tidak berafiliasi dengan pemerintah atau pihak manapun untuk turun ke Dogiyai untuk memastikan berapa korban dan siapa pelakunya, agar masalah ini jelas”katanya.










































